1428927254156 (1)

 

Author : Cho Haneul
Title : Dark Side
Type : Chaptered
Genre : Drama, Romance
Rating : PG 17

Also posted in my personal WP with different cast

Cast :
– Nam Bora
– Kim Jongin
– Oh Sehun

_______________________________________________________

Dugaan Bora tidak meleset. Begitu dirinya menapakkan kaki di Sekolah, saat itu juga masa-masa bebasnya berakhir. Sehun dan beberapa orang suruhan kedua orangtua Bora sudah menunggu gadis itu disana. Dengan paksaan serta ancaman, akhirnya Bora memilih pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang Bora hanya diam membisu, begitupula dengan Sehun. Namun sepertinya namja itu tidak tahan untuk lebih lama membungkam mulutnya. Sehun melirik sejenak kearah Bora. Seulas senyuman sinis tersungging dibibirnya. Dalam hati Sehun tertawa puas melihat Bora yang pada akhirnya tetap kembali dalam rengkuhannya, dalam kuasanya. Sejak awal Sehun memang sudah yakin akan hal ini.

“Aku sudah pernah bilang bukan bahwa kita ini berjodoh. Sejauh apapun kau pergi, toh pada akhirnya kau akan kembali ke sisiku.” Ucap Sehun tepat ditelinga Bora. Gadis itu tidak menanggapi perkataan Sehun, namun kedua tangannya mengepal dengan sempurna dipangkuannya. Wajah Bora tampak begitu datar dan dingin.

“Lusa adalah pesta pertunangan kita dan setelah pengumuman kelulusan, maka kau akan segera menjadi Nyonya muda Oh. Rencana yang indah, bukan? Dan kupastikan itu tak hanya sekedar menjadi rencana. Aku pasti akan mendapatkanmu seutuhnya. Ah, aku lupa! Bukankah aku memang sudah memiliki ‘seutuhnya’?” Cara Sehun menatap Bora sungguh merendahkan gadis itu, membuat emosi Bora naik ke ubun-ubun. Bukannya merasa bersalah, Sehun justru tampak menikmati ekspresi marah Bora. Ia tersenyum begitu sumringah, kontras sekali dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Bora.

 

 

*****

 

 

“Makanlah, ibu bawakan makanan kesukaanmu.” Ibunda Bora, Kim Nana, meletakkan nampan berisi makan malam untuk putrinya di atas meja belajar Bora, sementara Bora hanya duduk diam diatas ranjangnya dengan posisi memeluk kedua kakinya. Pandangan Nana beralih kearah sebuah gaun berwarna putih yang digantung dipintu lemari. Gaun berwarna putih dengan hiasan berwarna silver itu adalah gaun yang diperuntukkan untuk pesta pertunangan Bora dan Sehun yang akan diadakan lusa. “Kau sudah mencoba gaun itu? Gaun itu didesain oleh designer ternama. Kau pasti terlihat sangat cantik saat mengenakannya.”

“Kenapa kau tega melakukan ini?” Suara datar nan dingin itu terdengar. Bora menoleh kearah ibunya, masih dengan wajah datarnya yang ia tunjukkan sejak kakinya menapak kembali di rumah masa kecilnya itu. Ibu Bora menghela napas mendapati kenyataan bahwa putrinya masih bersikeras untuk menolak perjodohan itu.

“Ibu…”

“Dwaesso!” Bora menyela perkataan ibunya sebelum wanita paruh baya itu sempat menyelesaikan kalimatnya. “Aku sudah tahu apa jawabannya.” Sambung Bora. Ia lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang, tak lupa untuk menyelimuti dirinya dengan selimut hingga menutupi kepala. Bora bisa mendengar helaan napas ibunya yang terdengar begitu berat dan lirih. Gadis itu sudah tidak mau ambil pusing dengan kedua orangtuanya lagi. Sekarang yang beputar-putar dipikirannya hanya satu. Bagaimana cara agar ia dapat terbebas dari semua masalah yang menyesakkan ini. Sudah tiga hari lamanya ia mendekam di rumah mewahnya itu. Ia hanya bisa keluar untuk pergi ke sekolah demi mengikuti ujian, jika tidak karena itu, maka jangan harap Bora bisa merasakan angin segar musim semi yang membelai lembut wajahnya serta sinar matahari yang menghangatkan tubuhnya. Sudah tiga hari pula Bora tidak bisa menghubungi Jongin karena ponselnya yang disita oleh sang ibu.

“Sekarang apa? Apa memang harus menyerah begitu saja?” Gumam gadis itu lirih.

Bora teringat akan sesuatu. Dengan sigap gadis itu menyibakkan selimutnya dan melompat turun dari atas ranjang. Sangking terburu-burunya hingga ia nyaris saja jatuh dengan posisi tertelungkup diatas lantai. Bora menghampiri meja belajarnya dan kemudian mengambil laptop berwarna silver miliknya yang sudah lama sekali tak pernah ia sentuh.

Kenapa aku begitu bodoh?! Aku kan bisa mengirim email pada Jongin!’ Batin Bora girang.

Dengan semangat ia menyalakan laptopnya dan membuka akun emailnya. Yah, dengan begini masih ada harapan bagi Bora untuk menyelamatkan dirinya. Jari-jari kurus itu dengan lincahnya menari-nari diatas keyboard laptop, mengetikkan beberapa kata penting yang ia ingin beritahukan pada Jongin. Seulas senyum muncul diwajah pucat Bora saat melihat email tersebut telah terkirim. Sekarang gadis itu hanya berharap bahwa Jongin sedang kebetulan memeriksa emailnya.

‘Aku menagih janjimu, Jongin-ah. Kau bilang kau ingin membawaku pergi, bukan? Palli wasseo!’

 

 

*****

 

_Santa Maria Hospital, 08:32 PM, Seoul_

“Tidak perlu, kau bisa pulang sekarang.”

Jongin tak habis pikir dengan ayahnya. Bahkan disaat pria paruh baya itu dalam keadaan tak berdaya seperti ini, ia masih tetap ngotot untuk mendorong Jongin menjauh darinya. Jongin menatap ayahnya yang tengah terbaring lemas di ranjang rumah sakit itu. Sudah dua hari ayahnya dirawat inap di rumah sakit setelah ditemukan pingsan di ruang kerjanya. Jongin begitu cemas memikirkan keadaan sang ayah hingga ia rela menyampingkan permasalah Bora untuk sementara. Akan tetapi setelah ayahnya sadar, yang Jongin dapati justru tatapan dingin nan tak bersahabat itu lagi.

Seperti sekarang, sang ayah dengan tanpa perasaan menyuruh Jongin untuk pergi. “Apa lagi yang kau tunggu?” Pria paruh baya itu menatap Jongin datar.

Hati Jongin kembali terluka saat lagi-lagi harus mendapat perlakuan seperti itu. Pria beralis tebal itu menatap dalam kearah ayahnya. “Apa sebegitu inginnya kau membuatku menjauh?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Jongin.

Sang ayah hanya menatap kosong kearah langit-langit kamar. “Kurasa tanpa harus kujawab kau sudah tahu jawabannya.”

DEG!

Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Tidak bisakah ayahnya melihat ketulusan yang ada di dirinya?

Kedua tangan Jongin mengepal sempurna. “Begitu ternyata. Yah, kau benar, aku memang sudah dapat menebak seperti apa jawabannya. Dan ternyata benar, appa memang sudah tak sudi melihatku lagi.” Meskipun diucapkan dengan nada datar, namun Jongin tidak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang penuh luka itu. Jujur, ia sangat merindukan kasih sayang dari sang ayah. Jongin menarik napas sejenak. “Apa kau akan baik-baik saja tanpa aku?”

“Ya. Selama ini aku memang selalu baik-baik saja, bukan. Ada ataupun tanpa dirimu.”

Jongin tersenyum kecil. “Bagus jika seperti itu.”

Pintu kamar rawat tuan Kim dibuka dari luar, dan tak lama masuklah seorang wanita paruh baya yang modis, adik mendiang ibu Jongin. Wanita itu menghentikan langkahnya dan kemudian menatap Jongin begitu tajam dan sinis. Jongin tahu bahwa tatapan itu secara tak langsung mengatakan bahwa wanita itu keberatan dengan keberadaannya disana, jadi sebelum diusir secara tidak hormat, Jongin memilih untuk pergi terlebih dahulu.

Pria berparas tampan itu baru dapat bernapas dengan lega tanpa tekanan setelah ia berada di luar ruang rawat itu.

‘Memang sudah tak ada lagi alasan bagiku untuk tetap ada disini. Appa sudah terang-terangan menolak kehadiranku. Bukankah aku akan semakin menjadi anak durhaka jika aku tetap muncul dihadapannya? Toh, ia akan baik-baik saja tanpaku.’ Batin Jongin sembari menatap sendu kearah kamar rawat sang ayah.

“Selamat tinggal ayah…”

 

 

*****

 

 

Jongin menatap layar ponselnya, membaca email dari Bora untuk yang kesekian kalinya. Di email itu Bora memberi tahukan keadaannya dan juga mengenai pesta pertunangannya yang akan diselenggarakan esok hari. Namja berahang tegas itu mengernyitkan dahinya pertanda bahwa otaknya tengah berpikir keras. Ia harus secepatnya menemukan cara untuk membawa Bora pergi. Tapi ia sadar bahwa itu tidak mudah. Akan ada banyak rintangan yang menghadangnya.

Sekali lagi Jongin menatap layar ponselnya. Sebaris kalimat Bora menguatkan tekad namja itu. Yah, ia harus dan pasti bisa menolong Bora.

Oppa, kau pernah bertanya jika aku percaya padamu, bukan? Ya, aku percaya padamu. Aku percaya bahwa kau dapat membawaku keluar dari dunia gelap ini. Aku menunggumu oppa…

Dengan sigap Jongin menyambar koper berukuran sedang miliknya dan memasukkan beberapa potong pakaian serta barang-barang yang dianggapnya penting. Namja itu membuka laci tempat ia menyimpan berkas-berkas penting dan mengambil sebuah buku tabungan. Jongin tersenyum puas kala melihat nominal yang cukup besar tertera didalam buku tersebut. Selama ini ia selalu menabung, dan Jongin rasa jika sudah saatnya ia menggunakan uang tabungannya itu.

Setelah beres dengan barang-barangnya, pria itu menyambar dompetnya yang tergeletak diatas meja tv. Ia sempat menoleh sejenak, menatap setiap sudut kamar yang sudah ditempatinya semenjak ia kecil.

‘Aku pasti akan merindukan kamar ini…’

 

 

 *****

 

 

Bora uring-uringan. Sejak tadi tak henti-hentinya ia berjalan mondar mandir didalam kamarnya itu. Hatinya gelisah kala mengingat bahwa besok adalah hari pertunangannya. Gadis itu melirik sejenak kearah laptopnya. Tadi ia membaca email balasan dari Jongin. Namja itu bilang bahwa Bora tidak perlu khawatir karena ia akan segera menjemput gadis itu.

“Bagaimana dia bisa menjemputku?” keluh Bora, mengingat ada 2 orang penjaga didepan kamarnya, dan mungkin juga ada beberapa lagi yang berkeliaran di rumahnya. Entahlah, gadis itu tak tahu pasti. Yang jelas jika sudah ada campur tangan Oh Sehun maka semuanya akan terasa tidak benar dan tampak gila. Bora menggigiti kuku ibu jarinya karena gugup dan gelisah. “Ottohke?” gadis itu bergumam sendiri.

Pintu kamarnya terbuka, membuat perhatian Bora seutuhnya terfokus kesana. Dengusan napas kasar terdengar darinya melihat Sehun yang tengah menatapnya datar dan tanpa ekspresi.

‘Apa lagi yang si gila ini ingin lakukan?’ Batin Bora dalam hati sembari memperhatikan Sehun. Sehun berjalan mendekatinya, perlahan namun pasti. Masih dalam diam, pria itu menyusuri wajah Bora dengan tangannya. Belaiannya begitu lembut, namun tetap saja Bora tidak menyukainya. Ia sudah menetapkan hatinya untuk selamanya membenci Oh Sehun! Pria yang dengan tega menghancurkan hidupnya.

“Kau tak terlihat senang.” Suara Sehun terdengar dingin.

Lagi-lagi Bora mendengus. “Jangan mengharapkan hal yang mustahil, Oh Sehun! Kau kira akan ada gadis waras yang masih dapat tersenyum bahagia jika besok ia akan bertunangan dengan pria yang telah memperkosanya?” Ujar Bora sembari menatap Sehun tajam. Rahang Sehun mengeras. Perkataan Bora telah menyulut emosinya, namun pria itu memilih untuk mendiamkan gadis itu. Karena jika tidak, maka Sehun takkan bisa menjamin jika gadis yang ada dihadapannya ini akan selamat dari amukannya. Ia tentunya tidak ingin memberikan kesan buruk bagi kedua calon besannya itu.

Sehun kembali membelai wajah Bora, namun tak lama belaian itu berubah menjadi cengkraman kasar yang Bora bersumpah bahwa membuat pipinya terasa sangat sakit. “Jangan berharap bahwa kau bisa pergi dengan si brengsek itu, karena akan kupastikan jika si brengsek itu pergi ke neraka sebelum ia sempat membawamu pergi.” Sehun berbisik tepat ditelinga Bora, membuat tubuh gadis itu meremang.

Jujur saja, mendengar perkataan Sehun yang seperti itu membuatnya cemas. Ia takut membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi pada pria yang dicintainya jika Sehun benar-benar merealisasikan ancamannya tersebut.

Tanpa disadarinya air mata kembali bergulir diwajah mulus Bora. Gadis itu berjalan masuk kedalam kamar mandi dan membasuh wajahnya berkali-kali. Bora memandang pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat amat menyedihkan. Yah, hidupnya memang sangat menyedihkan. Tangan Bora meraba laci yang ada dihadapannya. Matanya menatap kosong isi dalam laci tersebut. Sebuah silet.

“Jangan melakukan hal bodoh ini lagi! Kau punya aku untuk berbagi.”

Bora mengurungkan niatnya untuk mengambil silet itu kala suara Jongin terngiang dibenaknya. Pria itu pasti akan kecewa dan marah jika ia kembali melakukan hal bodoh ini. Tapi… hanya cara ini yang dapat meredakan rasa sakitnya untuk saat ini. Dan lagi, jika ia masuk rumah sakit, maka otomatis pesta pertunangan akan ditunda. Membulatkan tekad, Bora pun meraih silet tersebut. Gadis itu berjalan keluar dari kamar mandi dan duduk didepan laptopnya. Jemari lentiknya mengetikkan beberapa baris kata yang diperuntukkan untuk namja yang begitu ia cintai, satu-satunya orang yang mengetahui sisi gelapnya dan yang ia percaya dapat membawanya keluar dari sisi gelapnya itu, Kim Jongin.

Maaf karena aku terpaksa untuk kembali melakukannya. Aku tak punya pilihan lain. Jika aku terbangun nanti, aku benar-benar berharap bahwa aku berada didekapanmu seperti waktu itu. Kau pernah menyelamatkanku waktu itu, jadi aku percaya bahwa kau pasti akan menyelamatkanku lagi kali ini.

Aku mencintaimu…

 

 

 *****

 

 

_Sehun’s Room, 10.02 PM, Seoul_

Sehun menghempaskan tubuhnya keatas ranjang nyaman miliknya, tak menghiraukan keberadaan sang ibu yang tengah menatap putra semata wayangnya itu dengan intens. Wanita berumur akhir empat puluhan itu duduk disisi ranjang Sehun yang kosong. Merasa ada bobot lain yang berada diatas ranjangnya, Sehun membuka matanya dan kemudian menoleh kearah sang ibu.

“Apa kau yakin dengan pertunangan dan juga rencana pernikahan ini?” Wanita paruh baya itu merasa agak ragu dengan keputusan yang diambil putranya. Menurutnya Sehun terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Sehun bahkan belum benar-benar lulus sekolah menengah atas, walaupun Sujeong begitu yakin jika putra kesayangannya itu pasti akan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Dahi Sehun mengerut mendengar perkataan sang ibu. Ia selalu merasa tidak suka jika ada yang meragukannya, apalagi menyangkut hal penting seperti ini. “Tentu saja aku yakin! Apa ibu pikir aku hanya bermain-main saja? Aku hanya ingin Bora!” Tegas Sehun.

Sujeong menghela napas. Belum apa-apa ia sudah merasa kalah berdebat dengan Sehun. “Tapi kalian masih terlalu muda. Siapa tahu dengan seiring berjalannya waktu kau akan menemukan yang lebih baik. Lagipula kau tahu sendiri kan bagaimana kondisi keluarga gadis itu. Bora sendiri bahkan sudah terang-terangan menolak pertunangan ini. Apa kau yakin dia mau menikah denganmu?”

“Ia pasti mau karena…”

“Terlepas dari rasa hutang budi dan ancaman kita padanya.” Sujeong memotong perkataan Sehun. Wanita itu menatap putranya dengan tatapan serius. “Kau jangan mengelak bahwa kita memang mengancamnya secara halus dengan menggunakan kedua orangtuanya.”

“Kenapa tiba-tiba eomma seperti ini, eo? Seharusnya eomma mendukung ku!” Ujar Sehun kesal.

Sujeong mendesah pelan. “Tadinya eomma juga tidak terlalu memikirkannya, keunde lambat laun hal tersebut menjadi beban tersendiri bagi eomma. Eomma hanya tidak ingin kau tersakiti dan menyesal. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik bagi anaknya. Ingin melihat anaknya memiliki kehidupan rumah tangga yang harmonis. Setidaknya si anak tidak melakukan kesalahan seperti orang tuanya…” Nada bicara Sujeong mendadak menjadi lirih. Sehun terdiam membisu. Ia tahu benar apa maksud ibunya. Ya, ayah dan ibunya juga adalah korban dari perjodohan, dan kehidupan rumah tangga mereka selalu dihiasi dengan percekcokan hingga Sehun tak ingat kapan terakhir kali ia melihat kedua orangtuanya melakukan hal yang romantis selayaknya pasangan suami istri yang normal.

“Aku tidak peduli bagaimana akhirnya, yang terpenting aku ingin Bora menjadi pasanganku. Hanya Bora!” Tegas Sehun tanpa mau diganggu gugat.

 

 

*****

 

 

Nana mengetuk pintu kamar Bora dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sepasang sepatu mewah berwarna putih dengan taburan manik-manik mirip berlian kecil diatasnya. Wanita itu ingin memberikan sepatu itu pada Bora karena merasa bahwa sepatu itu lebih cocok dengan gaun yang besok akan dipakai oleh Bora. Namun sudah sedari tadi ia mengetuk pintu, pintu itu tetap tidak terbuka.

“Bora, apa kau sudah tidur? Ini eomma. Eomma ingin memberikan sesuatu untuk mu.” Ujar Kim Nana, namun masih tidak ada jawaban dari Bora. Wanita paruh baya itu menatap kedua penjaga yang berdiri disisi kanan dan kiri pintu kamar Bora. “Apa dia didalam?” Tiba-tiba Nana jadi cemas jika Bora kembali kabur.

Kedua penjaga itu mengangguk mantap. “Ya, kami yakin nyonya. Mungkin nona Bora sedang tidur atau ia sedang berada di kamar mandi.” Jawab salah seorang penjaga. Meskipun begitu, namun Nana tetap merasa tidak tenang. Ada sesuatu yang membuatnya gelisah dan ia merasa harus memastikan keadaan putrinya itu.

“Ambil kunci serep!” perintahnya.

Tak berapa lama si penjaga kembali dengan membawa kunci serep ditangannya. Sayangnya pintu itu tetap tidak bisa dibuka karena kuncinya tidak dapat masuk kedalam lubang kunci.

“Tampaknya masih ada kunci didalam lubang sehingga kunci ini tidak dapat masuk. Apa yang harus kita lakukan nyonya?” Si penjaga itu menoleh kearah Nana. Nana terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia memberikan perintah. “Dobrak saja pintunya.” Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus segera memastikan keadaan putrinya itu.

BRAK!

Pintu kamar Bora terbuka lebar setelah terkena hantaman badan si penjaga sebanyak dua kali. Nana langsung melangkah masuk, dan detik itu juga ia terpaku saat melihat Bora yang tertidur dimeja belajarnya. Bukan, bukan itu yang membuatnya terpaku, namun tetesan darah segar yang jatuh dilantai kamar lah yang membuat wanita paruh baya itu mematung, sebelum akhirnya sebuah teriakan panik terdengar.

“YA TUHAN, BORA!!! SIAPA SAJA TOLONG!!!” Teriak Nana histeris. Wanita itu meringis melihat sebuah luka sayatan yang cukup dalam dipergelangan tangan sang putri. Dan yang membuatnya semakin histeris karena ia juga menemukan banyak luka sayatan lain dipergelangan tangan Bora. Beberapa masih terlihat baru dan sebagian hanya tinggal bekasnya saja.

‘Apa ini?! Kenapa aku tidak pernah tahu soal ini?!’

 

 

 

-To Be Continued-