collage1

Ice Cream Cake #4 ( Candy )

EXO Kai | Red Velvet Seulgi

Romance,School Life

General

Claralaluchaipark aka TianiEXO

“Permen?”

 

Chapter Sebelumnya : #1 Something kinda Crazy#2 Stupid Cupid | #3 Take it Slow
“Seharusnya aku senang, karena kau jadi punya teman selain diriku. Itu menandakan bahwa kau sudah mulai terbuka”

Seulgi hanya membuka mulutnya mendengar penuturan Kai.

“Jadi kau hanya merasa seperti itu?”

“Iya”

Seulgi tersenyum tipis, hatinya serasa teriris. Jadi, selama ini dipikiran Kai, Ia hanyalah seorang teman. Tidak lebih dari itu.

Kalau saja Kai berpikiran bahwa Seulgi lebih dari teman.

Itu mungkin,
Tidak akan pernah terjadi.

Seulgi menundukkan kepalanya, kemudian berbalik berjalan meninggalkan Kai yang menatapnya heran.

“Seulgi biar aku yang mengantarmu”

“Pulanglah”

Mungkin Kai tidak melihat atau tidak tahu, bahwa air mata tengah menetes membasahi pipi Seulgi.

“Aku harus mengantarmu”

Seulgi merasa hatinya ngilu, semakin Kai menunjukan perhatian padanya. Semakin Ia tidak bisa untuk tidak jatuh cinta lebih dalam kepada Kai.

Ini akan membuatnya semakin menderita.

“Berhenti menjadi temanku”

 

Kai terpaku mendengar perkataan Seulgi yang secara tiba-tiba, pikirannya hanya terpusat dengan apa yang dikatakan Seulgi.

“Seulgi” Kai hanya bisa menatap kosong jalan yang ada di depannya.

Seulgi sudah hilang dari pandangannya.

“Kenapa kau berkata seperti itu…
Seulgi?”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Sehun menatap kesal ponselnya sendiri, sudah puluhan atau mungkin ratusan kali, Ia menghubungi nomor Seulgi. Tapi tidak diangkat sama sekali.

“Kemana dia?”

Sehun terlihat cemas, dihubunginya lagi nomor Seulgi berulang-ulang kali.

“Nomor yang anda tujui sedang berada di luar jang-

“Haish” Sehun membanting ponselnya sendiri,

“Seandainya aku tadi tidak meninggalkan dia sendirian…
Mungkin tidak akan seperti ini”

 

Sehun menutup matanya, Ia merasa lelah mencari Seulgi. Disebelahnya terdapat dua cup bubble tea, yang diselimuti oleh bulir-bulir air, menandakan bahwa bubble tea itu tidak dingin lagi.

 

“Seulgi” gumam Sehun, Ia membuka matanya berharap bahwa Seulgi betul muncul di hadapannya.

 

“Seulgi itu hanya manusia biasa, bukan peri, Oh Sehun” Sehun sedikit tertawa berkat kebodohannya sendiri.

 

“Bukan peri” Sehun tersenyum pahit,

“Tapi aku menganggapnya seorang peri”

 

“Hari ini, hari ayah dioperasi. Tapi aku tidak diperbolehkan ibu untuk menunggu” ucap Sehun pada dirinya sendiri, memang hanya Ia sendiri yang berada di taman sekolah.

Semuanya sudah pulang, sebab sudah jam 6 sore. Matahari pun mulai terbenam, dan langit berwarna orange kemerahan.

“Apakah ayah baik-baik saja?” Sehun tidak ada niatan sedikitpun, bermain bersama ayunan yang tengah didudukinya. Ia hanya menatap tanah yang sedang Ia injak.

“Aku berharap ayah baik-baik saja” Sehun mengadakan wajahnya untuk melihat langit yang berwarna itu.

“Ah!!!! Bintang Venus !!!!” suara seorang yeoja tiba-tiba datang mengagetkan Sehun, segera saja Ia berbalik. Tampak seorang yeoja yang seumuran dengannya, menunjuk langit.

Senyum yeoja itu mengembang, Ia terlihat gembira.

“Aku tidak menyangka apa yang ada di dalam buku itu benar adanya”

“Indahnya” yeoja itu mengatupkan kedua tangannya, Ia menutup matanya.

“Aku mohon agar aku,ibu, dan Joy bisa berkumpul bersama ayah kembali” yeoja itu membuka matanya, kemudian tersenyum menatap langit.

“Apakah tersampaikan?”

“Semoga saja” jawab Sehun pada yeoja yang ada dihadapannya ini, saat yeoja itu menyadari keberadaannya. Mata yeoja itu segera membulat, wajahnya terlihat kaget.

“Kau dari tadi disini?” Tanya yeoja itu, Sehun mengangguk.

“Astaga, kau mendengar semua yang aku ucapkan?” Sehun mengangguk kembali, sehingga yeoja itu langsung menunduk malu.

“Kalau begini, tidak akan terkabulkan. Kalau orang lain tahu” yeoja itu terlihat lesuh.

“Kenapa kau ada disini?” Tanya Sehun kepada yeoja itu, yeoja itu hanya tersenyum tipis.

“Rahasia” yeoja itu tersenyum.

“Namaku Sehun, namamu siapa?”

“Seulgi”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Seulgi menatap langit malam dari jendela kamarnya. Hembusan

angin malam yang dingin tidak membuatnya berhenti menatap langit malam.

“Indahnya” gumam Seulgi Ia menopang dagunya.

“Andai saja aku bisa seperti bintang itu”

“Kai”

“Apa yang aku katakan padanya tadi?”

“Kenapa aku berkata seperti itu pada Kai?”

“Ada yang salah denganku hari ini” Seulgi mengacak rambutnya kesal, Ia tidak menyadari bisa berbicara sekasar itu pada Kai.

 

“Aku harus minta maaf kepadanya”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Tempat duduk yang ada di hadapan Seulgi kosong, Kai tidak datang hari ini. Tapi, Sehun datang.

“Kai ada urusan mendadak hari ini” ucap Sehun yang seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Seulgi.

“Ah, iya” Seulgi sedikit terkejut karena Sehun mengetahui apa yang dipikirkannya, mungkinkah Ia terlalu mudah untuk dibaca. Lagipula semenjak masuk kelas, Ia terus memandang tempat duduk Kai.

“Oh, Seulgi” Seulgi segera menoleh ke Sehun yang berada tepat di sampingnya.

“Iya?”

“Kau kemana saja kemarin? Aku mencarimu sampai kelelahan” Seulgi menepuk keningnya ketika mendengar perkataan Sehun.

“Oh, yang itu”

“Kau kemana?”

“Aku tidak tahu, entah mengapa kakiku sendiri yang menuntunku untuk berjalan. Saat aku sadar, bahwa aku sudah ada di tengah kerumunan banyak orang” jelas Seulgi sambil terheran sendiri, mengapa Ia bisa begitu kemarin.

“Kau kurang istirahat” Seulgi mengangkat wajahnya dan menatap Sehun.

“Jangan menatapku seperti itu”

“Tidak, apa kau serius?”

“Pasti, mana mungkin aku berbohong?”

“Ah, akhir-akhir ini aku sedang banyak pikiran” Seulgi memegang kepalanya, “Terima kasih” Seulgi tersenyum tipis kepada Sehun kemudian mulai focus dengan catatan Fisika yang ada di hadapannya.

“Kenapa Ia tidak masuk?”

^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Dua buah kaleng berisi penuh popcorn dengan 3 kantong keripik kentang bersama sebotol milk tea dingin menemani Seulgi hari ini.

Tidak sia-sia juga uang jajan yang Ia kumpulkan selama ini. Hari ini, karena Ia merasa harus cukup rileks,Seulgi membeli makanan ringan yang lumayan banyak.

Dan disinilah tempatnya,

Sepulang sekolah, Seulgi singgah dahulu di Cheonggyecheon. Dan sekarang, Ia duduk menikmati popcorn dan kripik kentangnya, sambil menatap pemandangan sungai.

“Jadi ini yang dilakukan seorang yeoja kalau dibuang oleh temannya sendiri” Seulgi segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara.

Dapat Ia lihat Sehun tengah berdiri di belakangnya.

“Oh, Sehun-ssi. Kau juga ke sini” Seulgi berbalik kembali, lalu melanjutkan memakan kripik kentang.

“Apa Kai tidak memberitahu apapun kepadamu?” Tanya Sehun yang sekarang sudah berada di sampingnya, Seulgi menghentikan aktivitas makannya, namun Ia hanya diam tanpa menjawab Sehun.

Ia tahu, bahwa Kai pasti marah padanya. Karena Ia mengatakan kalimat yang menyakitkan seperti itu.

“Kalian pasti sedang bertengkar” ucapan Sehun membuat Seulgi sontak menganggukkan kepalanya.

“Benar apa yang aku kira” Sehun tersenyum.

“Sehun-ssi, apa kau tahu kenapa Kai tidak masuk sekolah hari ini?”

“Aku tidak tahu, tapi sepertinya semenjak jam 6 pagi dia sudah keluar rumah terlebih dahulu”

“Sehun-ssi, apa kau tidak takut orang akan mengenalimu?”

“Aku sudah memakai penyamaran yang cukup”

“Sehun-ssi, apa kau berpikir Kai marah padaku?”

Sehun menghela nafas, kemudian Ia menoleh ke Seulgi yang kelihatan sedih.

“Kenapa kau tidak menanyakan kepadanya secara langsung?” Seulgi membulatkan matanya mendengar perkataan Sehun.

“Aku tidak bis-“

“Jika begini terus, kalian tidak akan pernah berteman lagi” Sehun berdiri, kemudian menghirup udara sore yang sudah mulai bercampur dengan bau tanah yang basah.

“Jangan panggil aku Sehun-ssi lagi, bukankah kita sudah pernah berteman dulu?”

Seulgi mengangguk mengerti, kemudian Ia ikut berdiri.

“Kita makan tteobokki, odeng, dan sundae di tempat makan di sana. Kata orang-orang tempat itu terkenal dengan saus tteobokkinya” Sehun menunjuk sebuah rumah kecil yang terletak di dekat ujung Cheonggyecheon.

“Aku mau saja, tapi kau yang traktir”

“Baiklah”

Dengan langkah yang lumayan santai, menuntun Sehun dan Seulgi sampai di depan tempat makan yang terkenal itu. Sehun sudah masuk ke dalam, sementara Seulgi hanya menunggu di luar.

Seulgi sedikit menghembuskan nafasnya, kemudian berbalik dan mencari tempat duduk yang pas untuk Ia dan Sehun.

“Maafkan saya” entah apa yang sedang Ia pikirkan, Seulgi secara tidak sengaja menginjak sepatu seoarang namja yang tengah duduk di dekat tempatnya dan Sehun.

“Tidak apa-apa” Seulgi mengangkat wajahnya yang tertunduk tadi, untuk melihat namja yang Ia injak sepatunya.

“Kai?”

“Seulgi?” Kai langsung terbatuk melihat Seulgi yang menatapnya tidak percaya.

 

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Seulgi kepada Kai, “Makan tteobokki pastinya” jawab kai sambil mengalihkan pandangannya, kelihatannya Ia kesal kepada Seulgi.

“Kai aku minta ma-“

“Ah, maaf Seulgi aku masih harus mengantre di kasir dahulu” suara Sehun menghentikan ucapan Seulgi kepada Kai.

“Tidak apa-apa” Seulgi sedikit tersenyum kepada Sehun.

“Jadi kau disini, hyung”

“Iya” Kai memakan tteobbokinya lanjut.

“Seulgi, ayo kita makan di tempat tadi” Seulgi mengangguk dan berjalan mengikuti Sehun.

Kai Nampak tidak menampakan ekspresi apapun, Seulgi menghela nafasnya, “Ia pasti marah padaku.

Tidak selang beberapa menit kemudian, Sehun dan Seulgi sampai.

“Akhirnya sampai juga, Seulgi kau mau makan yang mana dahu-“ Sehun tidak menyelesaikan ucapannya ketika melihat Seulgi sudah menatap sungai dengan sedih.

“Bagaimana ini, Kai pasti sangat marah padaku” Seulgi menghela nafas kembali, Sehun hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Pasti 2 atau 3 hari lagi, kalian berbaikan”

“2 atau 3 hari lama sekali” Seulgi mengacak rambutnya.

“Jangan terlalu dipikirkan”

“Tidak bisa, Kai adalah temanku yang berharga”

“Bukan sekedar teman, tapi dia cinta pertamaku”

“Kalau begitu, makan dulu ttobokki, odeng, dan sundae bagianmu. Aku tidak bisa menghabiskan semuanya sendirian” ucap Sehun kesal.

Seulgi tertawa kecil sambil mengusap kepalanya.

“Ah, maaf”

Sementara itu, Kai yang sedang memakan tteobokkinya tiba-tiba terbatuk. Ia menjatuhkan sepiring tteobokki miliknya.

“Seulgi pergi dengan Sehun, tapi aku tidak mencegahnya”

“Kalau aku mencegahnya, apa yang akan aku lakukan?”

“Seulgi itu hanya temanku”

^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Sehun menendang batuan kerikil yang berada di jalanan,

“Kenapa, dipikirannya hanya diisi oleh Kai?”

Sehun berhenti sejenak,

“Sadarlah Oh Sehun! Kau itu hanya teman masa kecil yang sangat buruk bagi Seulgi” Sehun menjitak kepalanya sendiri.

“Kenapa, aku harus menyukai Seulgi?”

“Ini membuatku bingung”

“Sehun, kukira kau sudah pulang” Kai datang menghampiri Sehun yang tengah berdiri, sontak menyadarkan Sehun dari renungannya sementara.

“Ah, Hyung. Kau hampir membuatku kaget”

“Hampir? Kau tidak terlihat terkejut”

“Mari, kita pulang bersama”

“Itu yang mau aku ucapkan tadi”

Sehun segera berjalan, namun Kai hanya tetap diam di tempat. Hingga Sehun sudah menjauh beberapa langkah.

“Hyung, kenapa kau terdiam?” Sehun berbalik, melihat Kai yang sudah tertinggal beberapa langkah darinya.

“Sehun” panggil Kai,

“Kenapa hyung?”

“Apa kau menyukai, Seulgi?”

Ekspresi wajah Sehun seketika berubah,

 

“Kenapa kalau aku menyukainya?”

^^^^^^^^^^^^^^^^^

 

Seulgi menatap jam dinding yang ada di kamarnya bosan, Ia berharap waktu agar cepat berlalu hingga besok adalah hari Senin.

Ia harus segera menyampaikan maafnya kepada Kai.

Entah kenapa juga, Seulgi tidak sadar kalau hari ini adalah hari minggu.

“Kapan jam 6 pagi?” mata Seulgi sayup-sayup mulai tertutup, namun dengan sekuat tenaga Ia membuka matanya kembali.

Jam dinding menunjukan pukul 10 malam, dan itu membuat Seulgi menggerutu kesal.

“TIDAKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!” suara teriakan Joy yang tiba-tiba membahana membuat mata Seulgi terbuka lebar, jantungnya hampir terlepas ketika mendengar teriakan Joy yang sangat besar itu.

“Kenapa kau berteriak seperti itu?” Seulgi keluar dari kamarnya, ke ruang tamu, asal dari suara teriakan Joy.

Dan tepat, Joy tengah memegang sebuah buku tebal sambil menepuk keningnya berulang kali.

“Aku lupa memfoto copy buku ini, padahal besok adalah tunggakan hari pengembalian buku ini” ucap Joy sambil menunjukan buku yang dipegangnya.

“Lalu?”

“Aku harus memfoto copynya sekarang, ada tempat foto copy 24 jam, tidak jauh dari sini” Seulgi segera terbatuk mendengar perkataan Joy.

“Apa kau gila? Seorang yeoja tidak boleh keluar malam jam segini” apa yang diucapkan Seulgi sudah terlambat, Joy sudah bersiap dengan memakai jaket tebalnya.

“Mau ikut?” Joy menunjuk pintu keluar rumah sambil melihat Seulgi yang menatapnya kesal.

“Baiklah”

“Andai saja eonmma tidak pergi ke Gwangju” Joy sedikit merenung,

“Pasti eonmma juga akan ikut menemaniku”

Seulgi sudah bersiap, dan berdiri di samping Joy.

“Ayo jalan” ajak Seulgi sambil membuka pintu.

“Seharusnya aku yang mengatakan itu”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^

 

“Mohon ditunggu ya” ucap seorang yeoja yang menjadi karyawan di tempat foto copy itu kepada Joy.

Joy segera melangkah menuju Seulgi yang tengah duduk di tempat yang telah disediakan untuk menunggu.

“Ramai juga ya, meskipun sudah malam” ucap Seulgi kepada Joy yang sudah duduk di sebelahnya.

“Mungkin banyak yang kelupaan sepertiku” balas Joy kepada Seulgi sambil sedikit tertawa.

“Lain kal-“

“Wendy!!!!” tanpa memedulikan ucapan Seulgi yang belum terselesaikan, Joy berjalan menghampiri seorang yeoja berambut pirang yang baru memasuki tempat fotocopy tersebut.

“Kelihatannya Ia bertemu temannya” ucap Seulgi sambil melihat Joy yang tengah berbincang sambil sesekali tertawa dengan temannya yang bernama Wendy itu.

Seulgi mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang transparan, melihat jalanan malam yang kosong. Tempat fotocopy ini berada di tengah taman dekat perumahan Seulgi.

Mata Seulgi terlihat melebar, ketika melihat Kai yang melintas di depan toko. Meskipun Kai memakai penyamaran, tapi Ia tetap mengenal Kai.

Segera saja, Seulgi berlari keluar tempat fotocopy tersebut.

“Aku harus menyampaikannya!”
Seulgi terus mengikuti Kai, hingga akhirnya Ia tahu dimana tempat tujuan Kai.

“Kenapa Ia berhenti di depan komplek rumahku?” tampak Seulgi melihat Kai yang tengah melihat rumahnya.

“Buat apa aku bersembunyi?” Seulgi segera keluar dari persembunyiannya.

“Kai!” panggil Seulgi, Kai segera berbalik dan terlihat terkejut.

“Seulgi, kau…”

“Aku tadi melihatmu dari tempat fotocopy dan langsung mengikutimu. Ternyata kau menuju rumahku” Seulgi tersenyum tipis.

“Kau ada perlu apa?”

“Ah, tidak aku hanya…” Kai terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu di belakang badannya.

“Aku hanya kebetulan lewat” Kai segera berjalan dengan maksud untuk meninggalkan Seulgi,

“Maafkan aku!” Kai menghentikan langkahnya ketika mendengar

suara Seulgi,

“Maafkan aku” Seulgi sedikit tertunduk.

“Seharusnya aku tidak berkata seperti itu”

“Maafkan aku”

“Ada yang lain dalam diriku waktu itu”

“Maafkan aku”

“Maafkan aku”

“Maafka…” Seulgi menghela nafasnya, Kai sudah berlalu.

“Dia marah padaku” Seulgi kembali menghela nafasnya, udara malam ini terasa sangat dingin dingin.

 

“Aku tidak marah” Seulgi merasa dirinya sedikit lebih hangat dari sebelumnya. Kai sudah ada dihadapannya sambil memakaikannya jaket yang tadi Kai pakai.

“Kai?”

“Mana mungkin aku marah padamu, hanya karena seperti itu” Kai tersenyum, dan itu membuat Seulgi menundukan kepalanya.

Air matanya hampir menetes, kalau Ia tidak menyekanya cepat-cepat.

“Terima kasih” Seulgi ikut tersenyum.

“Bukankah kita ini teman?” Kai tersenyum lagi, Seulgi menyeka air matanya kembali.

“Teman” ucap Seulgi lirih, tapi Ia tetap tersenyum.

“Oh, aku hampir lupa memberimu ini” Kai menunjukan sesuatu yang ada di dalam genggaman tangannya.

“Permen?” Seulgi sedikit heran, melihat permen yang ada di telapak tangan Kai.

 

Kai mengangguk, “Permen coklat”

 

“Buat apa?” Seulgi mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.

 

“Selamat hari Kasih Sayang”

 

^^^^^^^^^^^^^^^^

 

 

Wuahahhahahhahahhahahhaaaaaa ^^ jadi tambah suka ngelihat Kai dan Seulgi. Ternyata mereka berdua itu berteman semenjak trainee loh hehehehhehe ^^

Wahhh jadi senang yaaa~

Mohon maaf jika ada kesalahan ^_^

 

Terima kasih sudah mau membaca~

 

Dan

 

Jangan lupa tinggalkan komentar! ^_^