PicsArt_07-02-07.08.22

Author             : ichacmh

Main Cast        : Han Yuji (OC), Kim Jongin (EXO)

Genre              : Romance

Support Cast   : Kim Junmyeon (EXO)

Length             : Chapter

Disclaimer       : Seluruh cast adalah milik Tuhan, isi cerita milik author dan belum pernah di post dimana pun. (Dilarang untuk melakukan plagiasi)

HAPPY READING 🙂

(prolog) (1)

*

*

*

*

Jongin Side

 

Han Yuji benar saat dia mengatakan semua sudah selasai maka semuanya selesai.

Dia gadis yang sangat unik, ceria dan banyak bicara. Karakternya sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini aku pikirkan. Dia menarik perhatianku sejak pertemuan kami digereja, sadar atau tidak perbuatannya sangat konyol. Berdoa dengan suara seperti orang berteriak, yang benar saja.

Gadis itu penuh kejutan.

Kami hanya berbicara sekali dan dia langsung mengekspresikan sikap yang begitu baik padaku.

Fakta bahwa dia ada disampingku saat ini dapat menjadi buktinya.

Sudah dua hari aku kembali ke sekolah, keadaan benar-benar seperti biasa seolah tak pernah terjadi apapun. Tak ada satupun yang menyinggung mengenai ponsel yang hilang dikelas dan walikelas tak membahas apapun denganku.

Bahkan Kang Yoori kulihat ia memegang ponsel baru.

Yuji sangat baik.

Aku tak pernah memperkirakan dengan pasti apa yang terjadi dengan kerja jantungku yang mulai tak normal. Setiap tingkah Yuji menarik fokusku, Senyumannya mengundangku untuk menarik keatas dua sudut bibir ini. Dan sejak dua hari lalu tatapannya membuatku berdebar-debar.

Debaran yang kusuka, debaran yang mengirimkan implus pada otakku untuk segera menyadari bahwa aku menyukainya.

“ Kau mau? “ ia menawarkan bekal makanannya.

“ Tidak terimakasih “

“ Huh “ Yuji memutar bolamatanya, menunjukkan ekspresi kesal.

Kami sedang berada di atap sekolah, disini begitu tenang. Dan juga tempat kesukaanku, dua hari ini Yuji selalu mengikutiku kemari.

“ Apa kau akan terus mengikutiku Han Yuji? “

“ Oo, dikelas sangat membosankan “

“ Tapi aku sudah sering melihatmu menghabiskan waktu sendiri dikelas “

“ Ya, dulu aku terbiasa. Tapi karena sekarang ada kau, sendiri jadi menyebalkan. Menghabiskan waktu bersamamu jadi menyenangkan “

Aku mencuri pandang siluet dirinya dari ujung mataku, tanpa dia sadar. Setelah membuatku berdebar-debar dia malah asyik meneruskan acara makannya. Dasar.

***

Malam ini Yuji mengajakku bertemu Kim Junmyeon kakaknya. Aku sedikit bingung dengan perbedaan marga yang mereka miliki, tapi mungkin masih terlalu dini dan tidak sopan mempertanyakan hal tersebut pada Yuji.

Rumah Yuji sangat besar dengan pagar menjualang tinggi yang memblok sekelilingnya. Hanya ada satu pintu masuk yaitu melalui pos satpam di pagar depan.

Jangan ditanya betapa mewah rumah itu, halamannya sangat luas dengan taman bunga menghampar di bagian depan. Mengagumkan.

Aku tak pernah membayangkan bisa bertemu gadis yang sungguh luar biasa.

Aku mengikuti seorang satpam yang melangkah didepanku, mungkin ia memiliki tugas untuk mengantarkan tamu. Kelihat pintu rumah itudibiarkan terbuka namun ada seorang berbaju hitam yang bejaga di depan.

Pengamanan yang mengerikan.

“ Dia tamu yang di tunggu oleh tuan Junmyeon dan nona muda  “ satpam itu berbicara, mengenalkanku pada orang yang menjaga pintu depan.

“ Ayo ikut “ Dia mempersilahkanku masuk, aku menganggukkan kepala.

Mengikutinya hingga sampai pada ruang tamu yang megah.

“ Lagi aku memperhatikan sekelilig, tidak cukup penjaga bahkan di setiap sudut rumah ini terdapat CCTV.

Nyaliku sedikit menciut membayangkan berapa banyak sebenarnya Harta keluarga Yuji. Aku sudah banyak mendengar bahwa Yuji adalah keturunan chaebol tapi tak pernah mengira bahwa akan sehebat ini.

Seorang wanita muda mendatangiku dengan membawa berapa kue kering dan minuman berwarna oranye. Menyuguhkannya di depanku.

“ Silahkan “ dia tersenyum kearahku.

“ Ah ya, terimakasih “

Tidak lama setelahnya aku dapat melihat Yuji yang menuruni tangga bersama Junmyeon di sampingnya.

“ Maaf membuatmu menunggu, padahal kami yang mengundangmu “ Yuji berbicara mengawali perbincangan kami.

“ Tidak masalah “ Balasku singkat.

“ Alasan aku meminta untuk bertemu adalah untuk memberikan penilaian atas dirimu “

“ Oppa! “ Kulihat Yuji mengantamkan sikunya pada lengan kakaknya.

Aku benar-benar bingung dengan situasi ini, suasana menjadi sedikit tidak menyenangkan setelah kakaknya berbicara.

Apa katanya? Menilaiku. Siapa dia bersikap seperti itu.

“ Yuji bercerita banyak tentangmu dan juga mengenai kondisi adikmu, aku turut prihatin mendengarnya “ Kakak Yuji itu benar-benar memiliki aura untuk mengendalikan orang dengan sangat luar biasa. Setiap ucapannya terdengar penuh penekanan, mengintimidasi namun juga memberikan ketenangan.

“ Oppa, jangan seperti itu. Kita buat suasana yang menyenangkan saja terlebih dahulu “ kembali Yuji menginterupsi kakaknya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

“ Aku tidak suka hal yang bertele-tele, itu menyebabkan gangguan komunikasi sehingga maksud dan tujuannya menjadi tidak jelas “ Dia menutup pembicaraannya dengan Yuji, kulihat gadis itu bersungut-sungut jengkel, namun akhirnya diam.

Kim Junmyeon mengalihkan pandangannya kearahku.

“ Jadi apa yang ingin anda bicarakan denganku? “

“ Menimbang permintaan adikku untuk menjadikanmu orangku,- “

“ Tunggu, aku tak pernah meminta hal seperti itu pada Yuji “

“ Ya, tapi Yuji yang menginginkannya “

Aku melirik Yuji yang menggit bibir bawahnya, ia tak berani menatap kearahku. Kutebak dia sudah tahu aku tak suka dia mencampuri urusan hidupku.

“ Aku tak bisa langsung mengabulkan permintaannya begitu saja bukan? jadi aku harus melakukan beberapa penilaian darimu yang bisa memberikan keuntungan padaku “ Dia berujar sangat sombong, karakternya berbeda sekali dengan Yuji.

“ Aku tidak mau “ Jawabku yang kemudian segera bangkit dari duduk.

“ Tapi kau tidak memiliki pilihan lain, kau akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa jika kau berhasil membuatku menyetujuinya “

“ Aku tidak tertarik “ balasku asal.

“ Kau akan tertarik jika mengenai biaya pengobatan adikmu bukan? “ aku kembali mendudukkan diriku disofa, lalu sedikit menoleh kearah Kim Junmyeon yang tengah menunjukkan seringai dengan satu alis yang terangkat.

Lalu kuarahkan pandangannyu ke Yuji yang memberi isyarat untukku tetap disitu dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali dan memohon dengan tangannya tanpa suara.

“ Apa yang harus aku lakukan? “

Menyerah, Jika semua untuk kebaikan Jongra, biarkan saja harga diriku terinjak-injak.

“ Aku butuh seorah yang jenius, tentu jenius saja tidak cukup orang itu harus memilik seuatu yang dapat menarik perhatianku “

“ Aku mengerti “

Yuji tersenyum, tangannya mengepal keatas menyemangatiku gerakan bibirnya yang tanpa suara dapat kutebak dengan baik ‘H-W-A-I-T-I-N-G’

“ Dengarkan baik-baik, pertanyaannya hanya satu dan aku tidak akan mendebat jawabanmu jadi kau hanya punya satu kali kesempatan “ Kim Junmyeon mamandangku penuh tantangan, kedua lengannya ditekuk didepan dada. Khas sekali seperti sedang menunjukkan kekuasaannya. “ Apa yang kau pikirkan tentang adikku? “

Uh? Pertanyaan macam apa itu?

Aku sudah bersiap memutar otak mengantisipasi pertanyaan yang mungkin berhubungan dengan bisnis keluarga mereka, dia selalu berkata tentang keuntungan. Apalagi yang akan terlintas di pikiranku jika melihat latar belakang mereka selain uang.

Yuji benar kakaknya adalah seorang superior, pertanyaannya diluar dugaanku.

Aku menarik nafas panjang, kubalas tantangan Kim Junmyeon dengan menatapnya. Kusembunyikan rasa gugupku yang terintimidasi karena kehadirannnya.

“ Awalnya kupikir Yuji adalah gadis yang pendiam tapi belakangan ini aku tahu dia tidak seperti itu. Yuji gadis yang sangat konyol, unik dan aneh. Dia baik tapi entah mengapa aku merasa dia sedang menyombongkan dirinya dengan menyelesaikan masalahku, belakangan ini dia mengikutiku kemanapun jadi kupikir Yuji adalah gadis yang posesif dengan miliknya dan itu sedikit mengganggu “ Jawabku. Junmyeon menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan aku masih mengawasinya yang sedang meneguk minuman.

Pikiranku bercokol kemana-mana, dia bertingkah santai dengan sengaja membuatku semakin penasaran dengan apa yang akan lelaki itu katakan. Sialan.

Kim Junmyeon tersenyum berbanding terbalik dengan Yuji dibelakangnya yang memberikan tatapan membunuh kearahku. Kuabaikan saja, aku lebih memilih untuk mencoba membalas senyum Kim Junmyeon.

“ 50,01% “ katanya, setelah cukup lama aku tak membuka suara “ Dari 100% jawaban yang aku ingin dengar “ lanjutnya.

Aku melemaskan bahuku, mencoba bersandar pada sofa dengan sisa tenaga. Sebenarnya seberapa tinggi kepuasannya hingga jawabanku hanya memiliki persentase yang kecil baginya.

“ Jadi bagaimana? “ Tanyaku yang mulai meragu. Entah mengapa  aku sedikit berharap memiliki presentase yang lebih tinggi dari itu dengan mengatakan kebenarannya. Aku tak ingin memberikan jawaban hanya pada sifat-sifat Yuji yang baik saja.

Jumyeon menganggukan kepalanya “ 0,1% adalah keberuntunganmu, dengan keberuntungan sekecil itu kau tidak akan dierima menjadi orangku “ Ujarnya sombong, Dia menarik satu sudut bibrnya keatas memberikan seringai kearahku “ Tapi keberuntungan kecilmu itu, membuatmu diterima menjadi anggota keluarga ini “ Lanjutnya.

(*note : jadi disini tolak ukur nilainya adalah 50,00%. Jika dibawahnya atau nilainya sama dengan tolak ukurnya maka Kim Jongin di anggap tidak lulus)

Aku menajamkan pendengaranku, nada sombong itu terdengar menyenangkan sekarang.

“ Oppa terimakasih “ Yuji memeluk oppa-nya

“ Hei seharusnya dia yang berterimakasih, kenapa harus kau yang melakukannya “ Junmyeon, lelaki itu mengelus rambut Yuji dengan sayang.

“ Tentang adikku? “ tanyaku menyela, setelah mengingat perjanjian keuntungan yang dia tawarkan di awal. Jumyeon melepaskan pelukannya pada Yuji. Lelaki itu mendongak kearahku, memperbaiki posisinya.

“ Kau bisa membawa adikmu kemari untuk segera melakukan pengobatan secara berkala, masalah biaya kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Dan aku akan membicarakannya dengan aboeji mengenai pembiayaan kuliah dan jurusan yang akan kau ambil nanti “

“ Anda tidak perlu melakukan sampai sejauh itu, cukup perhatikan adikku saja “

Junmyeon berdiri dari duduknya, ia melewatiku namun segera mengentikan langkahnya di depanku.

“ Tapi aku juga sedang mengurus masa depan adik baruku, jadi jangan membantahku dongsaeng-ah “ Ujar Junmyeon berlalu.

Aku masih merasa linglung dengan ucapannya barusan ‘Adik’?. Yang benar saja, tidak mungkin bukan.

Kesadaranku belum sepenuhnya kembali, namun kurasakan sebuah tangan menggenggam jemariku. Menggoyang-goyangkannya. “ Selamat Kim Jongin, oppa pasti benar-benar menyukaimu “ Yuji

“ Oo “

Terimaksih banyak Tuhan!

***

Kim Junmyeon menepati janjinya, keluarga ini benar-benar mengurus adikku dengan sangat baik. Saat dia masih menjalani perawatan dirumah sakit di kota ini mereka bahkan memperbolehkan kami tinggal di rumah besar itu.

Mengenai aboeji dia juga menyambut kedatanganku dengan saat baik, beliau bahkan tak memberikan perlakuan yang berbeda antara aku dengan Yuji atau Kim Junmyeon. Mereka adalah keluarga yang sangat menghargai sebuah hubungan yang telah terjalin.

Sama seperti aboeji, sikap Kim Junmyeon berubah total terhadapku setelah malam itu. Dia selalu bertindak sebagai kakak yang sangat menyenangkan. Aku sedikit dibuat terkejut dengan perubahan sikapnya. Entah bagaimana ceritanya kami berhasil mengakrabkan diri.

Adikku Jongra yang dulu hanya menerima pengobatan dari rumah sakit pinggiran kota, sekarang ia menjalani perawatan di Jerman ditemani dengan eomma. Namun bahkan setelah adikku pergi, aku masih tetap di suruh tinggal dirumah ini. Sudah kukatakan, mereka menganggapku sama.

Aku sedikit merasa tidak enak, seperti aku benar-benar mengandalkan keluarga ini untuk mengurus hidupku yang hanya orang luar.

Yuji melemparkan tasnya dengan gusar. Ia menghempaskan dirinya di kursi mobil. Kami baru saja menerima laporan hasil belajar semester ganjil. Seperti biasa Yuji selalu mengeluhkan nilainya yang tak pernah meningkat.

“ Oppa pasti akan mengejekku kali ini “ Dia menggeleng-gelengkan kepalanya “ Bagaimana mungkin dengan metode belajar yang sama, nilai kita bisa berbeda. Maldo andwae “  serunya histeris. Wajahnya benar-benar kusut.

Ya, aku tahu penyebabnya. Kemarin Yuji berkata begitu percaya diri dengan nilainya.

Tapi dari awal aku sudah tak begitu yakin, gadis ini sangat lemah dengan pelajaran yang banyak teori. Aku tak bisa membantu apapun karena yang diperlukan adalah dengan banyak membaca. Tapi Yuji gampang sekali bosan.

“ Sudahlah kau hanya perlu menerima ejekannya “ Ujarku menoleh kearahnya.

“ Jongin-ah kurasa kita harus bertukar rapor “ Yuji memandangku dengan mata yang membulat penuh keyakinan. Lucu sekali.

Ide aneh macam apalagi ini. Aku tak bisa mencegah mulutku untuk tidak mentertawai kekonyolannnya “ Hahaha, mana bisa seperti itu Han Yuji “

“ Aku mempunyai dua saudara yang sangat jenius, tapi aku sendiri? “ Dia terus mengeluh.

“ Berhenti berpikir seperti itu, kau hanya belum menemukan bakatmu “ Aku menepuk kepalanya pelan. Dia masih sedikit tidak terima tapi tak mengatakan apapun lagi untuk menjawab pernyataanku.

Yuji mengembalikan pandangannya kedepan dan memperbaiki posisinya.

“ Kau tidak akan mengerti “ gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Kubiarkan saja mengalir di telingaku, tanpa berniat untuk bertanya. Aku sedang tak ingin menambah kekacauan di pikirannya.

***

Kami sedang makan malam bersama, aku melirik Yuji di depanku yang menikmati makanannya tanpa selera. Ia hanya mengiris dengan asal dan belum sama sekali menyuapkan makanannya.

Aku benar-benar kasihan melihatnya seperti itu, tapi aku tak bisa melakukan apapun.

“ Kau tidak suka makanannya “ Aboeji bertanya, cukup lama ia menyadari Yuji yang sedang tidak berselera.

Yuji memaksakan mulutnya untuk terbuka dan menyuapkan makanannya.

“ Tidak appa, makanannya enak hanya saja moodku sedang tidak baik “ Jelas Yuji.

“ Makanan bukan objek yang tepat untuk melampiaskan buruknya mood-mu hari ini ttal-ah “ Ujar aboeji kembali menasihati Yuji.

Gadi itu mengangguk pasrah sebagai jawaban.

“ Aboeji, dia hanya sedang memikirkan hasil belajarnya “ Seru Junmyeon mengejek.

Yuji mendongakkan kepala “ Ya! “ dia meneriaki Junmyeon yang hanya di balas dengan senyum menyeringai.

“ Han Yuji, Kim Junmyeon makan! Bersikap tenanglah seperti Jongin! “ Suara aboeji sedikit meninggi.

Mereka berdua seketika terdiam dan berfokus dengan makanannya. Aku sedikit merasa tidak enak, aboeji menyanjungku seolah-olah aku adalah makhluk yang paling benar disini.

***

Selesai makan aku menemani Kim Junmyeon diruang kerjanya. Sedikit banyak aku mengagumi orang ini, apalagi setelah mendengar cerita dari Yuji dan aboeji tentang keberhasilan Junmyeon dalam meyakinkan investor untuk melakukan investasi di proyeknya yang ingin membangun sebuah resort di pantai. Dan itu berhasil dilakukannya saat ia ada di semester empat perkuliahan.

Dia bahkan memiliki mata-mata di dinas perencanaan dan tataletak kotak sehingga dia dapat dengan mudah menjalankan strategi bisnisnya. Kemampuan otaknya sangat mengerikan dan mengundangku untuk belajar padanya.

Junmyeon tak pernah sekalipun pelit dalam membagikan ilmunya. Bahkan sekarang ia memberikan tips-tips mengenai perencanaan pemasaran yang baik kepadaku.

“ Kau akan menerima banyak kemudahan saat kuliah nanti “ Ujarnya. Seperti biasa ia sedikit membanggakan dirinya.

Aku mengangguk, memang benar adanya seperti itu.

“ Tapi hyung, jika kita hanya memilih satu sasaran konsumen bukankah untungnya lebih sedikit “

“ Ini yang selalu menjadi pengacau, tanpa segmentasi pasar yang jelas akan menganggu dalam perencanaan pembangunan dan akan mempersulit dalam memilih pasar yang potensial “

“ Ah “

Kudengar pintu yang terbuka dan langkah kaki yang mendekat kearah kami.

“ Sepertinya dua orang pandai sedang berdiskusi “ Ucap Yuji segera setelah ia melihat kami berdua.

Yuji duduk di sebelahku.

“ Dan sepertinya salah seorang disini tidak akan mengerti apa yang sedang kami bicarakan “ Kim Junmyeon menyahut. Sepertinya akan terjadi adu mulut disini. Keberadaanku tidak tepat.

“ Oppa, kau keterlaluan “

“ Hyung, kau memang sedikit keterlaluan “ Aku ikut membela Yuji, kasihan melihat gadis itu yang sepertinya sudah hampir menangis.

“ Kenapa? Dia memang tak pernah benar-benar berusaha “ Elak Kim Junmyeon tak mau disalahkan. “ Siapa yang kemarin begitu percaya diri dengan nilainya? “ Lanjutnya yang masih asik mempermainkan Yuji.

“ Aku mengerjakan matematika dengan baik, nilaiku hanya berbeda tiga angka dengan Jongin “ Bela Yuji. Aku mengangguk menguatkan argumennya.

“ Lainnya? “

“ Nilai fisikanya juga bagus hyung “ Tambahku.

Yuji mengedipkan sebelah matanya kearahku. Seperti sedang berterimakasih.

“ Hanya dengan dua komponen nilai itu kau sudah sangat percaya diri, aku benar-benar tak habis pikir “ Kim Junmyeon mengendikkan bahunya, lalu berbalik membelakangi kami. Dia sedang mencari beberapa hardfile yang dibutuhkannya.

“ Yuji lemah dalam menghafal teori, kau tahu bukan ada beberapa manusia yang terlahir seperti itu“ Ujarku, Junmyeon menoleh. Menaikkan sebelah alisnya.

“ Perkataanmu dapat membuatnya menjadi semakin malas membuka buku “ Balas Junmyeon kemudian duduk kembali di depan komputernya.

“ Jongin juga tidak pandai dalam mengingat jalan “ Yuji berseru.

“ Itu kasus yang berbeda “ Jawab Junmyeon.

“ Sama saja, berarti Jongin juga malas menghafal jalan “

“ Aku membelamu, dan kau membalasku seperti itu? “ Balasku, Yuji menoleh cepat kearahku menunjukkan ekspresi menyesal.

“ Mian “ Katanya. Aku memutar bola mataku kesal.

“ Kau berada di kubu yang salah Kim Jongin “ Junmyeon memainkan telunjukkan kearahku dari balik komputer. Aku mengangguk.

“ Ya.. ya.. ya, bahkan saat ini orang pandai sedang bersekutu “

“ Dan kau tidak diterima dalam kubu kami “ Kim Junmyeon.

“ Haish “ Pasrah Yuji, ia mengacak rambutnya sebagai bentuk frustasi kemudian meninggalkan kami keluar dari ruangan.

Aku dapat melihat senyum kemenangan Kim Junmyeon dengan jelas yang tadi sudah dengan sangat rapi ia sembunyikan.

“ Kau keterlaluan dalam mengerjainya hyung “ Ujarku.

“ Aku sedang memberinya semangat, kata-kataku memang tajam sehingga membuat orang lain tak ingin mendengarnya lagi. Jadi dia akan berusaha lebih keras untuk tidak mendengar ucapan sinis itu dariku “ Junmyeon memberi penjelasan.

Sekali lagi aku hanya bisa terperangah, dia memang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Jika tahu seperti itu maksudnya, aku akan ikut menambahkan pukulan untuk membuat Yuji lebih bersemangat.

***

Pagi ini sedikit lebih dingin dari biasanya, tapi kulihat Yuji sedang berenang di belakang rumah. Aku mendatanginya hanya untuk melihat saja tidak berniat untuk bergabung. Dia mengenakan pakaian renang yang masih dapat dibilang wajar, sehingga aku tak perlu merasa canggung dengan hal itu.

Menyadari keberadaanku Yuji menghentikan kegiatannya. Ia berjalan ketepi kolam renang, tangannya melambai mengajakku namun aku menggeleng tidak setuju. Ia tersenyum kecut, namun segera kembali ke kegiatannya.

Cukup lama aku duduk melihatnya. Sedikit pertanyaan bersarang dikepalaku. Apa Yuji tidak kedinginan, aku saja yang hanya melihat dapat merasakan buluku berdiri merinding kedinginan.

“ Jongin-ah ambilkan handuk di sebelahmu “ Yuji memanggilku, reflek aku menoleh kearah kursi desebrang meja. Kuambil handuk berwarna biru muda itu lalu menyerahkannya ke Yuji.

“ Gomawo “ Ucapnya setelah menerima handuk yang kuberikan. Dia keluar dari kolam renang dengan keadaan basah, baju renangnya sangat ketat sehingga bentuk tubuhnya tercetak dengan jelas.

Aku berdehem mengalihkan perhatianku, berjalan mendahuluinya.

Apa yang sedang aku pikirkan.

Mengapa dia terlihat err sangat cantik dan sexy. Segera aku membuang pikiran kotor itu.

Kembali aku pada posisi semula, Yuji ikut duduk di sebelahku.

“ Kau tidak mengganti pakaian? “ tanyaku “ Hari ini cuaca sedang dingin, kau bisa sakit nanti “ Lanjutku sedikit khawatir.

“ Tidak masalah, tubuhku memiliki imun tinggi “ Jawab Yuji semangat. “ Kemarin oppa sangat menyebalkan, dan kau juga kenapa tiba-tiba berganti kubu “

“ Kau menusukku dari belakang “ Belaku tak terima.

“ Lupakan “ Yuji menutup obrolan kami. Dia meminum segelas jus yang sudah ada sejak tadi.

Kami sama-sama terdiam lama, menikmati suara pagi.

Tidak tau mengapa rasa penasaran ku tentang Kim Junmyeon melintas begitu saja. Aku melirik Yuji mempertimbangkan apakah aku harus bertanya atau tidak. Namun kami sudah cukup dekat. Sepertinya sudah tidak masalah.

“ Yuji-ya aku sedikit penasaran dengan marga Junmyeon hyung yang berbeda denganmu. Kalau aku sudah pasti karena bukan saudara kandungmu “ Tanyaku hati-hati. tapi sepertinya momennya tidak tepat, kulihat Junmyeon menyandarkan tubuhnya di pintu. Dia berniat mendatangi kami, namun karena perkataanku dia menghentikan dirinya.

Aku menunjukkan ekspresi menyesal dan berniat mendatanginya.

Kim Junmyeon tersenyum, menggelengkan kepala seperti mengatakan ‘tidak masalah’. Dia menyuruhku untuk tetap duduk dengan isyarat tangannya.

Aku menurutinya.

“ Oppa? Dia sama sepertimu “ Jawab Yuji singkat.

Dia menggigit bibir bawahnya, rasa penasaranku sudah lenyap digantikan perasaan tidak enak pada Kim Junmyeon di belakang kami.

“ Hari dimana Junmyeon oppa datang, saat itu aku masih berumur enam tahun “ Yuji meneruskan ucapannya.

Han Yuji berhenti, ingin sekali kukatakan. Namun entah mengapa kalimat itu tertahan diujung bibir.

“ Dalam ingatanku aku sudah lupa mengapa ia bersama kami, mau dengar versi appa? “ Tanyanya, mata Yuji berbinar seolah dia memang sudah lama menunggu aku menanyakan ini.

Aku melirik Junmeyeon hyung, dia menangguk mengizinkanku mengetahui latar belakangnya.

“ Ya “ Jawabku singkat.

“ Saat itu appa sedang melakukan CSR, ada rumah sakit di sekitar proyek yang dikerjakan jadi dia dan beberapa pemangku kepentingan mendonasikan uang untuk pasien kurang mampu dirumah sakit itu “ Han Yuji memberikan jeda untuk sekedar meminum kembali jusnya.

(*note : CSR―Corporate Social Responsibility merupakan program dari perusahaan untuk sebuah pengakuan bahwa keputusan bisnis yang diambil dapat mempengaruhi lingkungn sekitar dan pemangku kepentingan. Secara sederhana seperti membangun citra atau nama baik perusahaan di mata masyarakat)

“ Junmyeon oppa adalah salah satu pasien dirumah sakit itu. Dia korban kecelakaan, tidak memiliki nama, keluarga dan kehilangan ingatannya “

“ Lalu bagaimana dengan marga Kim? “ Tanyaku yang sudah tak segan lagi, melihat bagaimana Kim Junmyeon sudah menizinkanku dan masalah dengan hal ini.

“ Itu karena di mobil yang ia tumpangi terdapat buku catatan dengan nama Kim Jaehwan, orang yang bersama dengan Junmyeon oppa di dalam mobil sudah meninggal. Ini hanya dugaan, tapi bisa saja orang itu adalah ayah dari Junmyeon oppa. dan nama Junmyeon adalah nama yang diberikan appa “ Jawab Yuji.

“ Ah “ Aku mengangguk mengerti.

“ Appa mengatakan bahwa eomma begitu kasihan melihat Junmyeon oppa, jadi ia meminta appa untuk membawa Junmyeon oppa bersama kami. Awalnya appa berpikir karena rasa kasihan, tapi beberapa tahun kemudian kami tahu alasan yang sebenarnya “

“ Apa? “

“ Karena eomma ingin ada yang menemaniku saat appa sedang dalam masa-masa terburuknya. Empat tahun setelah oppa datang, eomma meninggal. Kau tahu,- “ Yuji menahan ucapannya.

“ Aku turut menyesal “ Kataku, Yuji tersenyum.

Bibir itu kembali bergerak melanjutkan ceritanya “ Eomma menyembunyikan penyakitnya, saat itu appa tidak seperti sekarang ini, ia sedang berperang untuk mendapatkan perusahaan haraboeji dari samchon. Tapi dia kalah, dua tahun setelahnya perusahaan hampir dilikuidasi karena kecerebohan samchon dan dia lari dari tanggung jawab “ Yuji tertawa miris.

“ Brengsek sekali “ Aku memberikan umpatan pada paman Yuji.

Gadis itu tersenyum dia mengehela nafas panjang.

“ Bahkan setelah berebut warisan, appa harus di sibukkan untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Tidak ada waktu untuk eomma membicarakan penyakitnya dan membuat appa khawatir. Bagi kami semua eomma meninggal secara tiba-tiba, tapi sebenarnya eomma menderita sudah sangat lama “ Aku mengelus lengan Yuji, menenangkannya.

“ Kau sudah tidak apa-apa Yuji-ya, kau sudah berhasil melewatinya “

“ Kepergian eomma adalah mimpi buruk bagi appa, appa selalu menyibukkan dirinya tanpa henti dengan urusan perusahaan. Dimasa-masa itu hanya ada oppa yang menghiburku, hidupku berputar pada oppa, fokusku adalah oppa. Dia menjadi seorang oppa, seorang appa, seorang eomma dan chingu “ Yuji tersenyum kepadaku, dengan wajah yang memerah dan air mata yang berjatuhan.

“ Junmyeon hyung benar-benar sangat hebat “ ujarku.

“ Oo “ Yuji mengangguk. “ Karena itu aku menyukainya “

“ Huh? “ Aku sedikit terkejut dengan perkataannya barusan.

“ Aku menyukai oppa “ Yuji mengulangi ucapannya.

Kepalaku mendadak pening, seperti menolak ucapan itu.

Kulihat Kim Junmyeon tidak kalah terkejut, ia mematung disana. matanya mengarah ke Yuji dengan tatapan serius.

“ Naneun Kim Junmyeon saranghanda “ ucap Yuji.

Tidak kumohon hentikan. Kumohon.

Aku merasa seperti dilempar ke lubang hitam diluar angkasa, entah mengapa kepalaku terasa lebih berat. Kenapa disini juga harus ada Kim Junmyeon yang mendengarnya, ingin kusumpal saja telingaku agar tidak perlu mendengar apapun dari Yuji.

Bibir Yuji merekah penuh senyuman. Matanya mengarah kedepan tanpa memperhatikan aku.

‘Tapi Han Yuji, aku juga menyukaimu’

 

TBC

*

*

*

*

*

Are you ready for the complicated love story?