PicsArt_07-02-07.08.22

Author             : ichacmh

Main Cast        : Han Yuji (OC), Kim Jongin (EXO)

Genre              : Romance

Support Cast   : Kim Junmyeon (EXO)

Length             : Chapter

Disclaimer       : Seluruh cast adalah milik Tuhan, isi cerita milik author dan belum pernah di post dimana pun. (Dilarang untuk melakukan plagiasi)

HAPPY READING 🙂

(prolog) (1) (2)

*

*

*

*

 

Jongin Side

Aku melewati Junmyeon hyung begitu saja ketika kami berpapasan, tak berniat untuk menyapa. Memandangnya saja sudah membuatku ingin marah. Aku tidak mengerti dengan cara kerja otakku yang sangat dangkal, mengapa aku harus marah padanya yang bahkan tak memiliki salah apapun.

Beberapa dari pergolakan dalam diri mengatakan bahwa aku salah, sedang sisi lainnnya membenarkan.

Aku hanya sedang membuat perlindungan untuk diriku sendiri yang tak mau menerima pengakuan yang diberikan Yuji atas perasaannya pada Kim Junmyeon.

“ Jongin “ seru Yuji mengagetkanku.

“ Aish, Wae!? “ Balasku terkaget.

“ Besok kau harus mendukungku, mereka memilihku untuk ikut lomba lari estafet “ ucap Yuji bersemangat.

“ Minggu ini hanya pekan olahraga aku tidak akan masuk “

“ Ya!! Kau tidak mau memberi semangat temanmu? “

“ Oo “ ujarku singkat, kemudian berlalu melewatinya.

“ Kim Jongin, kalau besok aku tidak melihatmu. Aku tidak mau berbicara denganmu sampai pekan olah raga selesai “ teriak Yuji keras dibelakangku.

“ Terserah padamu “ Jawabku menoleh melihatnya sebentar.

Maaf Han Yuji tapi aku benar-benar muak dengan semuanya. Hubungan ini entah mengapa sangat mengganggu sekarang. Sungguh tidak menyenangkan.

***

Kim Junmyeon berdiri di depan pintu kamarku, matanya mengamati diriku dengan cermat. Kakiku melangkah dekat menghampirinya.

“ Ada apa? “ tanyaku begitu posisiku berada di depannya.

“ Ayo kita bicara “ Ujarnya.

“ Aku sedang sangat lelah hyung “ Balasku malas yang memang berusaha menghindari pembicaraan apapun dengannya.

“ Ikut aku “ perintahnya, kemudian berjalan begitu saja tanpa mengindahkan jawabanku.

Aku mengumpat kesal dalam hati, tak ada pilihan lain selain menuruti maunya.

Langkah kami berhenti begitu sampai di dalam ruang kerja sekaligus ruang belajarnya.

“ Duduk “ perintahnya sekali lagi.

Aku memmandangnya  sembari duduk.

“ Ada apa? apa yang perlu  dibicarakan? “ tanyaku sebiasa mungkin.

“ Kau dan perubahan sikapmu “

Aku melemaskan bahuku, ya Kim Junmyeon tidak cukup bodoh untuk mengamati keadaan sekitarnya.

“ Apa yang salah dengan sikapku hyung? “ Tanyaku berpura-pura tak mengerti.

“ Kau mengabaikanku dan Yuji sejak kali terakhir pembicaraan kita di kolam renang “ Jawabnya.

“ Hanya perasaanmu saja hyung “ elakku.

Kim Junmyeon menyunggingkan senyum miring kesal dengan pernyataanku yang terus membantahnya.

“ Tidak, kau tau aku tak bisa dibohongi “

“ Tapi aku memang tak merasa ada yang salah dengan sikapku “

“ Apa kau menyukai Yuji? “ tebaknya tepat pada sasaran. Terasa dentuman keras dalam jantungku. Hanya satu kali namun cukup untuk membuatku terperangah.

Aku memejamkan mata sejenak untuk mengatur ekspresi wajahku agar terlihat senormal mungkin.

“ Hyung, kenapa kau bisa berpikir seperti itu? “ Tanyaku.

“ Karena kau mulai bersikap aneh sejak Yuji,-“

“ Bukan, hyung kau benar-benar salah paham “ sahutku memotong perkataannya “ Bukan karena aku menyukai Yuji, tapi karena aku memegang rahasianya sedangkan subjek dari rahasia itu sudah mengetahuinya. Menurutmu bagaimana aku harus bersikap? “ aku membuat alibi sebaik mungkin.

Mencoba membantah, memutar  balikkan setiap pemikirannya tentang perasaanku pada Yuji.

Kim Junmyeon memicingkan matanya mengamatiku.

“ Kenapa kau yang harus bingung menentukan sikap, pengakuan itu di tujukan untukku “

“ Posisikan dirimu ditempatku, kau tahu bagaimana perasaan Yuji terhadapmu sedangkan aku tak mengerti bagaimana perasaanmu pada Yuji. Aku hanya memberi waktu pada kalian karena mungkin satu saja tindakanku dapat membuat kesalah pahaman “

“ Kau yakin hanya itu? “ tanyanya untuk memastikan lebih lanjut.

“ Ya “ Jawabku singkat penuh keyakinan.

“ Bagaimana jika kukatakan aku juga menyukai Yuji? “

Maka aku adalah orang asing yang terjebak diantara hubungan percintaan kalian.

“ Kalau begitu selamat “ ucapku sembari menyunggingkan senyum. Junmyeon masih memandung penuh selidik kearahku.

“ Benarkah? “

“ Hem “ aku berdehem. Mengeluarkan ponsel dari saku, kutunjukkan dia foto seorang wanita didalam galeri “ Namanya Kim Saemi, dia angkatan kelas duabelas dan sangat popular. Aku ingin berkencan dengannya “ ujarku kemudian.

Kim Junmyeon tertawa ragu-ragu.

“ Jinja-yo! Hyung “

“ Argumenmu sangat meyakinkan sekarang dan kurasa gadis yang kau sukai itu cukup cantik “

Aku mengangguk setuju. Kemudian kami menertawai keraguan dalam hati masing-masing.

Sepertinyanya aku berhasil membuat alibi untuk mengelabuhinya.

“ Maka dari itu hyung, kau tidak perlu khawatir akan apapun “

“ Ya “

“ Jangan mengatakannya padaku, katakan saja pada Yuji “ Saranku.

Bodohnya aku mengatakan itu dan menjerumuskan diriku sendiri pada lubang yang mungkin saja nanti tak bisa kudaki lagi..

“ Sepertinya rencana aboeji untuk menjadikan aku anak yang sesungguhnya benar-benar akan terwujud “

Aku memandangnya penuh keterkejutan. “ Rencana? “

“ Saat aboeji akan turun dari jabatannya sudah pasti aku yang akan mengisi posisi itu, tapi statusku sebagai anak angkat akan dipermasalahkan pada saat rapat dewan direksi oleh orang-orang yang ingin menjatuhkan aboeji. Jika aku menjadi menantunya sudah pasti hal itu akan memperkuat posisiku “

Aku memejamkan mata, berpikir apa sebenarnya yang sedang terjadi dikeluarga ini. Dari berbagai sudut pandang apapun segala halnya hanya berpusat pada menjaga kekayaan.

“ Kau sangat menginginkan posisi itu hyung? “

“ Tidak, kebagaiaan Yuji adalah yang terpenting. Maka dari itu kami tidak pernah memberitahukan hal ini kepadanya, jika kondisinya benar-benar buruk kami baru akan memakai rencana ini “

Sebuah hubungan yang awalnya kuanggap begitu dihargai dalam keluarga ini hanyalah omong kosong untuk membenarkan suatu tindakan yang nantinya akan dipilih. Pada akhirnya Yuji hanya sebuah jalan pintas untuk mereka. Yuji hanya sebuah pilihan, rencana cadangan. Begitukah?

Aku kehilangan kata-kata, terhanyut dalam berbagai pemikiran yang bercabang, namun pada akhirnya aku tak bisa melakukan apapun karena mereka memiliki cinta yang sama.

“ Hyung, karena Yuji aku bisa berada di dalam keluarga ini. Dia membantuku untuk menemukan jalanku, akan kulakukan apapun untuknya. Asalkan dia mencintaimu, aku pasti akan membantumu mengamankan posisi itu “

Jika sudah seperti ini biarkan saja mengalir, pada akhirnya mau atau tidak jalan ini yang memang harus aku pilih. Atau memang telah ditentukan oleh takdir.

Kim Junmyeon sedikit kaget dengan perkataanku, kemudian ia menyunggingkan senyum miring andalannya. “ Terimakasih, Jongin-ah “ ucapnya.

“ Bukan untukmu hyung “ tukasku segera. “ Tapi untuk Yuji, seperti sebuah balas budi. Jadi pastikan perasaan Yuji akan selalu sama “

“ Ya, dan pastikan juga besok kau datang untuk mendukung Yuji. Dia pasti akan sangat sedih jika tak menemukanmu di bangku penonton “

***

Aku berlari ke tempat paling ujung di deretan bangku penonton, di bagian tengah yang langsung menghadap pada pelataran lapangan telah penuh dengan riuh orang-orang yang bersorak mendukung jagoannya masing-masing. Setidaknya ada keraguan apakah mungkin Yuji akan dapat melihatku disini, secara teknis tempat yang kududuki sekarang jauh dari jangkauan mata. Namun bila memang tak dapat dilihat nanti setelah perlombaan selesai aku akan menemui Yuji untuk sekedar menampakkan batang hidungku.

Aku memandang kekanan lalu kekiri sembari mengatur nafas yang tak teratur. Disini cukup tidak tertib, teriakkan menggema dari berbagai sudut.

Ada enam orang dengan baju warna merah jauh di depan sana mengelompok, kudapati sosok Han Yuji di antara mereka. agak samar, namun dapat kulihat antusiasmenya yang mendengarkan intruksi dengan sangat teliti.

“ Selanjutnya kelas 2-1 melawan kelas 2-3 “ seorang pewara memberitahukan urutan tampil setelah putaran dari kelompok yang bertanding sudah selesai.

Itu giliran kelasku, aku mengamati Yuji berlari menempati posisinya.

Seorang membunyikan peluit di dekat orang dengan urutan pemegang tongkat yang pertama. Lalu mereka mulai berlari sangat cepat, aku terbawa pada suasana yang begitu meriah. Sesekali aku memberikan komentar. Tiba pada giliran Yuji yang mebawa tongkat itu, kaki rampingnya berlari dengan cepat, matanya memandang fokus kedepan. Hingga tanpa disadari karena terlalu cepat dia berlari kakinya sedikit goyah kemudian dia jatuh tersungkur.

Murid-murid dari kelas kami segera berlari menghampirinya, menolongnya.

Aku segera beranjak dari posisi dudukku. “ Han Yuji!!! “ teriakku keras dari tenggorokan. Tangan dan kakiku mendadak gemetar, lalu aku segera berlari menuruni tiap bangku yang berjejer kebawah. Berkali-kali mengatakan permisi dengan menerobos orang-orang di depan.

Kepanikan menyerbuku begitu aku semakin dekat dengan tujuanku. Aku bahkan hampir tidak bisa menelan gumpalan ludah yang ada ditenggorokan. Nafasku terengah tidak bisa berhenti gemetar, aku berada di bagian paling belakang orang-orang yang mengerumuninya.

Kemudian perlahan kerumunan itu membelah menampakkan Yuji yang berjalan terpincang-pincang dengan dibantu duang orang perempuan disisi kanan dan kiri lengannya. Tim medis darurat.

Yuji tersenyum begitu melihatku. Aku mengehembuskan nafas lega mengetahui keadannya yang lebih baik dari perkiraanku. Luka yang nampak hanya berada di bagian lutut.

“ Membuatku khawatir saja “ Akhirnya aku bergerak lebih mendekatinya.

Yuji masih berjalan kesusahan menju tepi lapangan. Kamudian keadaan menjadi terkendali setelah Yuji berhasil di bawa menepi.

“ Kau datang? “ Ujarnya dengan sedikit meringis ketika seseorang memberikan semprotan pada pergelangan kakinya yang terkilir.

“ Heum, kau memaksaku untuk datang “ Dia terkikik. Aku bejongkok mematung dihadapannya. Memejamkan mata dan mendengarkan setiap tawanya. “ Dasar “ gumamku kemudian.

“ Uh, lukamu sudah selesai diobati. Sebaiknya kau beristirahat diruang kesehatan saja, atau kau mau langsung pulang? “ salah satu anggota tim medis berbicara pada Yuji.

“ Aku beristirahat di ruang kesehatan saja, lagi pula perlu waktu untuk sopirku menjemput kemari “ Balas Yuji.

“ Ah.. aku akan membantumu berjalan “ tawarnya.

Gadis itu membantu Yuji berdiri kembali dan memapahnya. Aku melangkah maju kemudian berjongkok membelakangi mereka “ Aku saja yang mengantarnya “ tawarku.

“ Aku akan ikut bersamanya “

Kurasakan sebuah lengan melingkar dileherku. “ Ayo “ ucapnya kemudian.

Aku berdiri membawa bebanku yang berharga. Rasanya suhu udara musim dingin telah berubah menjadi sehangat musim semi. Aku berjalan dengan debaran jantung yang menyenangkan, berdegub dengan kencang namun otakku tak mengimkan implus kegelisahan.

***

Aku membantu Yuji untuk bisa bersandar dengan nyaman di kasur ruang kesehatan. Kunaikkan kakinya yang terkilir dengan hati-hati.

“ Aku akan menelfon Cha ahjussi sekarang “ ujarku.

Yuji meraih lenganku, kepalanya menggeleng “ Aku ingin tidur sebentar saja, bangunkan aku dua jam lagi “ Ia memerosotkan tubuhnya. Meraih selimut dan menariknya hingga menutupi tubuhnya sampai kebagian dada.

“ Dirumah lebih nyaman “ Sanggahku.

“ Aku tidak akan bisa tidur karena Junmyeon oppa akan terus mengoceh “

“ Tapi Yuji kakimu harus segera diobati dengan benar “

“ Lagipula apa kau mau menggendongku lagi sampai kedepan gerbang? “ tanyanya, mata coklat itu menantangku. “ Aku tidak mau jika Cha ahjussi yang menggendongku, badannya bau “ sekali lagi ia membuat alasan.

Aku hanya menghela nafas “ Kalau kakimu nanti semakin sakit jangan salahkan aku “

“ Ya,ya. Dan kau juga tidurlah. Ah ya jangan lupa nyalakan alarm dua jam dari sekarang lalu telepon ahjussi “

“ Ya “

Aku berjalan ke kasur disampingnya. Membaringkan tubuhku yang juga terasa lelah dan memang sudah mengantuk sedari tadi pagi.

Kami berbaring hanya dengan dipisahkan oleh sebatas kelambu putih, aku menyibakkannya hingga aku bisa melihat wajah tenangnya dengan mata yang tertutup. Aku memandanginya sejenak sebelum aku benar-benar ikut terlelap.

***

Aku membuka mata mendapati diriku ditempat yang asing.  Aku mengusap mataku dan duduk untuk memastikan keberadaanku.

Ah ya ruang kesehatan.

Alarm belum berbunyi dan aku terbangun lebih awal. Kutolehkan kepalaku kesamping kiri dan mendapati Yuji masih pada posisinya yang tadi. Menghadap kearahku.

Aku turun dari tempat tidur untuk mengecek jam. Duapuluh delapan menit lagi akan menjjadi dua jam penuh. Aku mengampil handpone di saku celana mencari nomor ponsel Cha ahjussi. Lebih baik kutelpon dia sekarang, jadi nanti kami tidak perlu untuk menunggu lebih lama lagi.

“ Yeoboseyo? “ kataku memastikan telepon sudah tersambung setelah mendengar suara berisik bukannya dering telepon.

“ Iya? “

“ Ahjussi, bisa tolong jemput kami sekarang? “

“ Baik, baik saya akan segera kesana “

“ Terimakasih ahjussi “

“ Sama-sama “

Panggilan telepon itu hanya berakhir begitu saja dengan pembicaraan singkat dari kami.

Sekali lagi kupandang Yuji yang masih tertidur pulas, tubuhku bergerak begitu saja mendekatinya. Aku tersadar begitu jarak antara wajah kami begitu dekat, bahkan bisa kurasakan hembusan nafasnya yang teratur.

Aku merendahkan kepalaku menggapai dirinya hingga pada posisi  beberapa senti di hadapannya. Kusentuh pipinya dengan jemariku, luar biasa sensasi yang kurasakan membuat darahku berdesir.

Kutarik kembali kepalaku untuk mundur darinya.

Ini salah…

Kuamati sekeliling tak ada siapapun selain kami, bahkan petugas kesehatan tak berjaga di kursi duduknya.

Sekali, hanya sekali. Sebelum aku tak bisa bersamanya sedekat ini.

Naluri menuntunku untuk kembali menggapainya, hembusan nafasnya semakin tersa dekat. Dan jantungku berpacu semakin cepat. Aku merendahkan kepala, bibirku menyentuh bibirnya.

Aku merasakan esensi tubuhnya yang begitu dekat denganku, seakan jiwaku tersedot kedalamnya. Getaran hati serta kebahagiaan menjalar memenuhiku. Tubuhku terbakar dalam gejolak api yang meluap panas namun tak menghanguskan. Lebih, lebih dari itu.

Bibirnya begitu lembut dan hangat, hanya sebuah kecupan ringan. Tapi momen ini mungkin akan terpatri dalam ingatanku untuk waktu yang tak terbatas.

Aku segera menarik kepalaku mundur.

Berdehem, aku mengusap bibir dengan ibu jariku.

Ya sekali saja, biarkan aku mengingat bahwa aku pernah memiliki sebagian kecil dari drimu.

***

Kami sudah berada dirumah, duduk di sofa ruang keluarga. Yoomi salah satu asisten rumah tangga kami yang termuda mengompres pergelangan kaki Yuji yang membengkak, padahal tadi hanya memar.

Yuji gadis itu terus menjejalkan makanan ringan kemulutnya, sembari matanya menatap ke layar televisi. Sesekali ia meringis dan memberikan tatapan ketidaksukaannya pada Yoomi jika ia menekan pergelangan kakinya terlalu keras.

Kim Junmyeon bergabung dengan kami begitu ia sampai tanpa melepas jasnya. Duduk disamping Yuji dengan hati-hati memastikan bahwa bagian tubuhnya tak menyentuh kaki Yuji yang cedera.

“ Sakit? “ Tanyanya pada Yuji khawatir.

“ Tentu saja! “ Balas Yuji singkat tanpa mengalihkan pandangannya.

“ Lalu kenapa tidak langsung pulang jika tau sudah sangat sakit “

“ Ini, ini yang menyebabkan aku tidak mau pulang “ Yuji berhenti sejenak pada kalimat yang diucapkan “ Oppa akan memarahiku! “

Kim Junmyeon menghela nafas berat, konsetrasinya mengencang pada Yuji disebelahnya. Aku mulai menyusun kalimat untuk melerai mereka, mungkin saja setelah ini akan ada badai disini jika mereka sudah berselisih.

“ Hyung, tadi petugas medis menyuruhnya beristirahat sebentar di ruang kesehatan “

“ Aku bahkan tahu bahwa kau sedang membohingiku “ Junmyeon berujar “ Ekspresi wajahmu bahkan sudah sangat jelas bahwa kau sedang membelanya “

Mataku melebar, bodoh sekali jika mau berkilah dengan Junmyeon.

Yuji menyingkirkan tangan Yoomi yang sedang memijat kakinya “ Aku mau kekamar saja, Jongin-ah bantu aku “ Dia mencoba berdiri, namun Kim Junmyeon menarik lengannya keras hingga ia kembali duduk.

Kim Junmyeon memberikan isyrat tangan menyuruh Yoomi meninggalkan kami, atau mungkin juga denganku sehingga hanya menyisakan mereka berdua.

Aku beranjak membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. “ Kau disini saja Jongin-ah “ Ujar Junmyeon padaku. Aku kembali menarik diriku untuk duduk di tempat yang tadi.

“ Aku tidak marah Han Yuji, aku hanya  khawatir “ Ucap Junmyeon dengan nada yang melembut pada Yuji.

“ Tidak, oppa selalu saja berteriak marah jika aku terluka. Bukannya menenangkanku atau setidaknya menghiburku saja sudah cukup “ Bantah Yuji tidak terima seperti biasanya. Tidak mau kalah.

Aku masih menutup mulut tidak memberikan tanggapan apapun dan hanya memperhatikan mereka berdua.

“ Aku benci jika kau terluka tanpa izinku “

“ Kenapa aku harus meminta izin pada oppa? Lagi pula aku terjatuh secara tiba-tiba dan itu bukan hal yang bisa diprediksi “

“ Karena aku mencintaimu, aku benci jika aku tidak bisa menjaga dengan baik sesuatu yang aku cintai “

Hahaha….

Jadi ini maksudnya Kim Junmyeon menyuruhku untuk tetap tinggal.

Untuk menyaksikan pernyataan cintanya pada Han Yuji. Aku meringis menggelengkan kepalaku tak percaya. Menatap langit-langit rumah berwarna putih yang dalam pandanganku sekarang menjadi kelabu.

Sekarang aku mengerti, bahwa alibiku tak pernah dapat membohonginya. Ia sangat tahu dan mengerti sepenuhnya. Hanya saja Kim Junmyeon sedang berpura-pura terbohongi. Karena dia egois dan dia juga mencintai Yuji.

Karena orang yang bijak sekalipun dapat menjadi begitu licik. Satu hal yang kupelajari, mengalah dan merelakan adalah sesuatu yang paling munafik dalam cinta.

Siapa yang sedang tertipu dan siapa yang sedang menipu sekarang?

Kim Junmyeon benar-benar sangat pandai menggunakan kemampuan otaknya. Hari itu dia membuat perangkap agar aku memberikan pernyataan yang berbeda atas perasaanku dan dia seolah-olah menerima kebohongan itu. Agar dia dapat menyampaikan cintanya pada Yuji tanpa perlu terbebani.

Dan sekarang dia sedang memberikan garis tebal bahwa Yuji miliknya. Sungguh aku tidak dapat mempercayai ini. Aku terjebak dalam perangkapnya.

“ Oppa? “ Yuji memandangnya dengan alis yang bertaut penuh tanya.

“ Jongin menyuruhku untuk mengatakannya padamu, karena aku juga sudah mengetahui semuanya. Aku tak bisa mengabaikan hal itu begitu saja dan aku juga mencintaimu Han Yuji “

Yuji melirik kearahku, aku tersenyum dengan bibir yang bergetar.

“ Joah… Aku, aku seperti akan meledak sekarang. Oppa lihat bahkan bulu-bulu ditanganku berdiri karena merinding “ Yuji berseru histeris. Wajah itu begitu  bahagia, ia menunjukkan tangannya pada Kim Junmyeon. Menunjukkan bahwa kebahagiannya bukan hanya terletak dihati tapi tubuhnya juga ikut bereaksi.

Kim Junmyeon menangkap tubuh Yuji dalam pelukannya. “ Gomawo “ Yuji berkata padaku tanpa suara.

Aku hanya mengangguk sebagai tanggapan, kemudian beranjak dari sana membiarkan kebahagiaan menyelimuti mereka.

***

Aku merenung melihat papan kapur di depan, mengukur suasana hatiku yang tak kunjung membaik sejak dua minggu yang lalu.

Semakin muak ditambah dengan sikap Junmyeon yang seolah tak memusingkan keadaanku sama sekali. Hubungannya dengan Yuji semakin dekat, pun juga aboeji yang menerima dengan senang hati ikatan diantara keduanya.

Ponselku bergetar di dalam saku. Kuambil dengan hati-hati sembari mengamati gerakan guru di depan. Sedikit takut ketahuan apalagi aku yang duduk di bangku depan.

Saat membuka kunci layar kulihat sebuah pesan baru dari Saemi sunbae.

Ayo kekantin bersama nanti saat istirahat jam pertama

Jemariku mengetik pesan balasan.

Ya

Kumasukkan lagi ponselku, beruntung guru itu tak menyadari kegiatanku.

Sama seperti Yuji yang membuat hubungan baru dengan Kim Junmyeon, akupun membuat sebuah pengalihan dengan berkencan dengan Saemi sunbae. Anggap saja sebuah toleransi. Seperti peribahasa tak ada rotan akar pun jadi. Segala hal yang tak dapat kulakukan dengan Yuji dapat kulakukan dengan orang lain. Walaupun hasilnya tak dapat memberikan kebahagiaan yang maksimal seperti yang aku mau.

Brengsek memang, namun aku tak dapat mengatasi kekacauan dalam diriku tanpa bantuan seseorang.

Aku belum mengatakan soal hubunganku ini dengan Yuji ataupun Junmyeon.

Kerena ada dua hipotesis yang sedang aku pikirkan sekarang.

Hipotesis pertama : Kim Junmyeon akan yakin bahwa aku tak pernah memiliki perasaan apapun pada Yuji

Hipotesis kedua : Kim Junmyeon akan menganggap aku sedang mencari pelarian karena tak bisa mengatasi perasaanku pada Yuji.

Aku sendiri membuat catatan daalam benakku yang entah mengapa condong pada hipotesis kedua, sehingga aku tetap diam menyembunyikan hubunganku dengan Saemi sunbae.

Lagi pula aku juga tak begitu yakin akan berjalan berapa lama hubungan ini nantinya.

Diantara ribuan pemikiran yang bercokol di dalam benakku, tanpa kusadari bel istirahat berbunyi. Jinhwan yang duduk disebelahku pun sudah siap mengambil ancang-ancang untuk keluar begitu guru itu selesai membereskan mejanya.

Kurasakan tepukan pelan di bahuku, sontak aku menoleh kebelakang dan menemukan Yuji yang tersenyum ceria seperti biasanya.

“ Ayo ke atap “ Ajaknya.

“ Aku tak bisa hari ini “ Jawabku dia memajukan bibirnya cemberut.

“ Wae? “

“ Uh, aku sedang menunggu seseorang “

“ Kalau begitu aku ikut menunggu “

“ E..eh tapi,-“ aku belum meyelesaikan ucapanku. Entah Yuji mendengarnya atau tidak gadis itu menarik kursi Jinhwan dan duduk di sebelahku. Aku hanya menghela napas berat.

Tidak lama, karena sosok Saemi sunbae yang semampai berjalan pelan mendekati kami.

“ Hai “ sapa Saemi sunbae. Aku menangguk “ Ke kantin sekarang? “

“ Uh, boleh “ balasku.

Yuji menyenggol lenganku, matanya memelototiku.

“ Ah ya, kenalkan ini temanku Han Yuji dan Yuji ini Saemi sunbae “ aku memperkenalkan mereka berdua.

Saemi sunbae mengulurkan tangannya terlebih dahulu, kemudian baru Yuji menerimanya.

“ Kau mau ikut juga? “ Tanya Saemi Sunbae pada Yuji.

Aku beranjak keluar dari bangku.

“ Siapa dia? “ ucap Yuji kepadaku mengindahkan ajakan dari Saemi.

“ Saemi sunbae “ Balasku.

Kaki Yuji bergerak cepat menginjak kakiku, ekspresi wajahnya menunjukkan ungkapan ‘Kau mau kuhajar ya?’. Aku mengaduh pelan, merakan sakin di beberapa jemari kakiku.

“ Aku kekasihnya Kim Jongin “ Saemi memberikan jawaban yang tak ingin kukatan pada Yuji.

Mata Yuji sedikit membola sebagai refleksi terkejutnya, dia memicingkan matanya sinis kearahku.

“ Ah… Chukkae “ Ujarnya. Lalu dia tersenyum “ Sudah berapa lama? “

“ Empat hari yang lalu “ Jawab Saemi.

“ Aigoo “ Yuji kembali menyenggol lenganku “ Harusnya kau memberitahukannya padaku “

Aku menggaruk rambut belakangku yang tidak gatal.

“ Jadi kau mau ikut dengan kami? “ Tanya Saemi sunbae sekali lagi.

“ Tidak, aku akan menjadi pengganggu nanti “ Yuji menggelengakan kepalanya “ Ah, tapi jangan memonopoli Jongin untuk dirimu sendiri, aku tak punya teman dekat selain dirinya disini “ lanjutnya dengan nada memperingati dan inotasi sedih yang kentara sekali dibuat-buat. Kemudian dia tertawa.

“ Tentu saja “ Balas Saemi yang juga ikut tertawa. “ Ayo, kita pergi sekang sebelum antriannya semakin panjang, “ Ajaknya padaku, aku menurut mengekor dibelakangnya.

Saat sampai dipintu depan dia meraih tanganku, kemudian menggemgamnya. Aku tahu dan sadar betul ia sedang mengumumkan hubungan kami pada seluruh siswa di sekolah ini.

Sekali aku melihat Yuji di belakang, bahunya merosot dan ia menelungkupkan wajahnya di atas bangku dengan ditutupi kedua lengannya yang saling bertautan.

Han Yuji, entah mengapa untuk hari ini aku lebih suka ekspresimu yang sinis dengan wajah sedih dan kecewa. Darpiada senyum dan tawamu yang secerah mentari pagi.

 

TBC

*

*

*

Jadi sebenernya chapter ini sudah selesai beberapa hari yang lalu tapi isi ceritanya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Nah karena teman dekat ku mengatakan ‘lebih baik menggunakan sudut pandang orang pertama’ dan aku sendiri berpikir lagi memang ada benarnya, karena entah mengapa aku ngerasa penyampaian perasaan Jongin yang kecewa akan lebih bagus. Jadi pada akhirnya chapter ini baru selesai hari ini. Jangan lupa memberikan kritik dan saran ya 😉