Title |Two Rings

Author|RHYK

Cast|     Kim Jong In as Ha Seungwoo

Seulgi as Sungha or Seulgi

 

Additional Cast| Jiyeon as Ahn Riahn

 

Length|Chapter

Genre|Romance -Angst – Friendship -Tragedy – Maried life

Disclaimer|

Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

 

Quotes|I love you more than i love her in passes but, you never understand

Seung Wo POV

Setelah operasi usai, Sung Ah dalam keadaan koma.Gadis itu tak kunjung membuka matanya hingga lima hari berlalu.

Dihari keenam ia kembali membuka matanya dan orang yang pertama ia cari adalah Ibu. Ia bilang ia melalui perjalanan yang sangat -sangat panjang. “Aku harus mengganti rugi mobilnya Chan Yeol.”

“Aku sudah menghubunginya,jangan khawatir.”kataku agar ia tenang. Kemudian, ia kembali bertanya soal Ibu.

“Dimana ibu?Apa ia sedang menyiapkan sesuatu untukku?”tanya Sung Ah dengan wajah yang sumringah.

Apa yang harus aku katakan padanya?

 

“..Seung Wo?!?”

Aku dibangunkan dari lamunan yang ku buat ketika ia memanggil namaku dan mengguncang tubuhku. “..aku sedang tidak ingin bercanda denganmu, tuan Ha.Cepat jelaskan dimana Eomma?Aku harus minta maaf padanya.” katanya begitu bersemangat membuatku semakin bingung bagaimana harus bereaksi.

Atau mungkin mataku mengatakan sesuatu sehingga ia bisa bereaksi seperti itu?

Tiba-tiba ia terisak, dan menatapku nanar.Menyiratkan bahwa apa yang terjadi hanyalah mimpi dan tidak nyata.

 

“Ibu..masih hidup ‘kan?Seung Wo -ah,, dia tidak meninggalkanku ‘kan?Jawab aku!!” tanya Sung Ah dan melempariku dengan barang-barang yang ada disekitarnya.

Seketika ia menjadi histeris.

 

“Maafkan aku..” ujarku seraya menghamburkan diriku dan mendekap Sung Ah. Gadis itu perlahan tak lagi histeris dan mulai tenang.

“Maafkan aku..sekali lagi..”

 

TWO RINGS

 

Hari berikutnya Sung Ah harus mengikuti terapi untuk mengobati rasa shock dan penderitaan batinnya. Ia sama seperti mayat hidup. Dokter bilang itu hanya berlangsung dalam hitungan hari. Namun, bagiku itu seperti belasan tahun. Seakan Sung Ah yang ku kenal telah hilang tenggelam oleh kesedihan.

 

Dan seringkali ia pingsan. Bahkan ia pernah hampir saja bunuh diri diatap rumah sakit. Jika saja, aku telat datang pada hari itu. Aku pasti sekarang sudah tidak hidup.

Mengapa?

Karena,sama saja melalaikan tanggung jawabku.

 

Flashback

“Seung Wo?” panggil Sung Ah saat itu. Aku menoleh dan berjalan kearahnya. “Aku mau ketoilet dan jalan-jalan sebentar..” katanya dan segera turun dari tempatnya tidur. Aku segera membantunya turun dan membawakan infusnya. “Aku tidak ingin diantar, aku mau sebentar saja sendirian..” katanya lagi.

“Sungguh?Tak apa?” tanyaku meyakinkan Sung Ah. Ia tersenyum padaku sambil mengangguk. “Jangan terlalu lama..” kataku

“Baiklah, kapten!” katanya seraya terkekeh.

Aku kemudian membiarkannya keluar, sementara aku hanya duduk dikamarnya.

 

Hampir 30 menit, ia tak juga kembali. Merasa ada yang tak beres akupun segera mencarinya.

“Perawat Na!Apa kau lihat Sung Ah?” tanyaku pada perawat Na yang sedang ada dikantin. “Sepertinya aku bertemu ditoilet tadi, ia bilang ingin mencari udara segar diatap.Mungkin ia disana.”

Aku segera berlari begitu mendengar kata ‘Atap’ dari mulut perawat Na.

Dan, benar saja ketika ia tiba disana ada Sung ah yang sedang berjalan menuju keatas balkon atap. Mataku membulat sempurna, aku segera berlari dan menarikanya dalam pelukanku.

Ia meronta minta dilepaskan. “Biarkan aku mati!” teriaknya begitu histeris. Nafasku begitu terengah-engah dan masih memeluknya. “Tidak.Kau harus hidup.Ada aku disini, Sung ah -ya..”

Ia memukul punggungku, sementara aku tak bereaksi apapun dan merelakan apapun ia lakukan, yang penting jangan kematian.

“Aku merasa marah saat itu..aku membentak ibu..kemudian kecelakaan terjadi..aku belum minta maaf padanya..”

“tenanglah..”kataku dan mengelus lembut rambut Sung Ah. Ia masih menangis dan menyalahi dirinya atas kejadian malang itu.

“Ibu tidak akan memaafkanku..rasanya aku ingin mati saja, Ha Seung Wo..” kata Sung ah lagi dan masih menangis. “Kau harus hidup, dengan begitu ibu akan memaafkanmu..itu amanat beliau yang belum aku sampaikan padamu..” kataku berdusta.

“Apa yang harus aku lakukan,Ha Seung Wo??”

 

 

Dihari lainnya..

“Seung Wo -ssi? Nona Sung Ah sudah siuman dari pingsannya pagi ini.” kata seorang perawat yang mengurus Sung ah sejak gadis itu masuk bangsal rawat inap.

“Benarkah?Terimakasih..” ujarku dan segera masuk kedalam kamarnya.

Ia tersenyum kecil melihatku.

Senyuman yang lebih terang dan memiliki semangat untuk hidup dari pada hari -hari sebelumnya.

“Illeowa..” katanya seraya melambaikan tangannya.Aku hanya menurut dan duduk tepi tempat tidurmya. “Merasa baikkan?” tanyaku mentautkan senyum simpul.

Ia menggeleng dan bersuara. “Berikan aku sebuah pelukan, aku akan merasa baikkan..Karena..aku harus melanjutkan hidupku.” ujarnya, mendengar itu aku segera tersenyum lebar dan membentangkan kedua tanganku keudara.

Memberikan ia pelukan.

Ia segera menghamburkan dirinya dan memelukku begitu erat. “Aah, begitu nyamannya.. siapa gadis yang bisa merasakan dekapanmu selain aku tentu saja.”

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Bahkan ia masih dengan rapih menyimpan sendiri perasaan sakitnya.

Kau benar-benar hebat, Sung Ah.

Aku membalas pelukannya, dan tersenyum simpul. “Tidak ada. Hanya kau seorang yang akan merasakan bertapa hangatnya pelukanku.”

Ia melepaskan pelukanku seketika lalu mengernyit. “Memangnya kau tidak akan menikah?”

Aku hanya menaikkan bahuku dan memanyunkan bibirku yang membuat Sung Ah tertawa.

“Kau hebat!” pujian ku yang aku tujukan untuk Sung ah malah membuat gadis itu terpingkal geli. “Hebat?Aku?Heol!Amudeun, Gomapta.Ha Seung Wo -ssi.” Ia kembali menatapku. “..untuk membuatku kembali merasa hidup dan membangkitkanku..” lanjutnya lagi.

Aku hanya tersenyum miring mendengar ucapannya. “Jadi, kita bisa pulang kerumah secepatnya ‘kan?” tanyaku yang disambut anggukan antusias olehnya.

 

TWO RINGS

“Huh!! akhirnya aku bisa kembali lagi kerumah..” ujar Sung Ah dan duduk disofa ruang tamu. Sementara itu, Seung Wo hanya terkekeh pelan dan membawa barang-barang Sung ah kedalam kamarnya yang berada dilantai atas.

 

Drrrtt

Drrrttt

 

From : Jong Dae

“Ya?kapan kau akan memberikan kejutannya?Sudah d-2 ”

Seung Wo membalasnya.seraya menuruni anak tangga lalu menuju dapur.

To: Jong Dae

“Aku tahu.Ia baru pulih, paling tidak..aku akan membawanya sekalian untuk memberikan sebuah proposal untuknya.”

Ia mengambil gelas wine dan sebotol wine yang ia ambil dari kulkas.

From:Jong Dae

“Heol!Proposal?Proposal apa?Me-melamar maksudmu?”

Menaruhnya didepan gadis itu. Membuat Sung Ah terlihat kesenangan karena sudah lama ia tidak minum alkohol.

To:Jong Dae

“Entah..”

 

“Yeay!Wine..kapan kau membelinya?” tanya Sung Ah seraya mencoba membuka tutupnya namun tak juga berhasil.”Kau baru pulih, mana ada tenaga?”

Yang langsung diambil alih oleh yang beli dan membukanya dengan mudah, walau dengan tenaga besar tentu saja. Ia menuangkannya kedua gelas yang ia bawa kemudian mereka bersulang. “Selamat atas kepulangan sahabat terbaikku.” kata Seung Wo.

“Selamat atas perjuangan tuan Ha untuk membuatku bangkit.” kata Sung ah

 

Clang!

 

Bunyi gelas yang beradu masih terdengar setelah setengah jam berlalu.

 

Kini, Sung Ah sudah hampir mabuk sedangkan Seung Wo masih ada sedikit kesadaran walau ia sudah mabuk. Karena, wine sebanyak apapun tidak akan membuatnya kehilangan kesadaran sepenuhnya.

 

“Sung?Ibumu menitipkanmu padaku..”

“tenang saja, hanya sampai aku menikah.Sesudah aku menikah dengan orang lain, kau tak akan punya beban apapun.”

“Ibu bilang jangan pernah membiarkanmu meneteskan air mata..”

“kemarin aku menangis karena ibu, bukan karena kau.”

“Tapi, kau telah banyak menteskan air mata hanya karena orang sepertiku. Aku seperti bukan sahabatmu, aku hanya membuatmu selalu menangis dan menyimpan rasa sakit itu sendirian..”

“Benar juga..apa kau ada bertemu dengan Ri Ahn?”

“Ada..saat dibandara..ia semakin cantik.Tapi, aku sepertinya sudah lama melupakannya..”

“Melupakan apa?Kau bilang semakin cantik, kau bahkan tidak lupa kecantikkannya.”

“Kau hanya tidak tahu, selama kau pergi ke Jeju..hanya satu orang yang berada dipikiranku..”

“satu?”

“Ya, satu.. ia membuatku jadi seperti orang gila dan hilang.Memposting hal aneh di SNS, memfoto sampah, dan banyak hal gila lainnya. Hanya karena aku tak dapat kabar darinya.Dan, perlahan.. aku lupa pada fakta dulu aku menyukai seorang gadis bernama Ahn Ri ahn.”

 

Sung ah menoleh, membuat wajah mereka berhadapan yang hanya berjarak kurang dari 3 inchi. Seung Wo masih menatap Sung ah dalam diam. “Kau tidak memakai eye-liner tadi?Aku membawakannya tadi.” Seung Wo berkata. Mereka masih dalam posisi yang sama. Sung Ah kemudian menutup wajahnya. “Wae?Mataku jelek tanpa benda itu ya?” terka Sung ah. Seung Wo mengawasi tangan Sung ah yang menutup seluruh wajahnya. Ia masih menatap gadis itu dalam.

“Kau lebih cantik, tanpa eyeliner..” ujar Seung Wo dan semakin mendekatkan wajahnya kearah Sung ah.

Chu~

Seung Wo menempelkan bibirnya dibibir Sung Ah. Membuat gadis itu yang tadinya membulatkan matanya langsung memejamkan matanya.

bersambung..